Vietnam Dinilai Sukses Membendung COVID-19, tetapi Pejabatnya Kini Mulai Khawatir

Vietnam Dinilai Sukses Membendung COVID-19, tetapi Pejabatnya Kini Mulai Khawatir
Pria mengendarai sepeda membawa anak-anaknya melewati sebuah jalan di tengah mewabahnya virus corona (COVID-19), di Hanoi, Vietnam, Senin (27/7). Foto: ANTARA/REUTERS/Kham

jpnn.com, HANOI - Warga ibu kota Vietnam, Hanoi, didesak untuk tetap berada di rumah mulai Senin dan semua layanan nonesensial dihentikan akibat kemunculan klaster baru infeksi COVID-19.

Pemkot Hanoi, yang telah melarang layanan makan di restoran dan menutup salon serta pusat kebugaran, juga menghentikan layanan bus penumpang dan kereta api tujuan provinsi-provinsi di wilayah selatan yang mengalami lonjakan terparah.

Hanoi hanya mencatat 400 lebih kasus sejak Mei, lebih sedikit dibandingkan dengan lebih dari 50.000 kasus di seluruh negeri. Akan tetapi, otoritas telah menerapkan pembatasan di sejumlah daerah di kota tersebut setelah muncul wabah baru.

Vietnam berhasil mempertahankan kasus COVID-19 relatif rendah berkat pengujian massal yang ditargetkan dan pelacakan kontak yang ketat serta aturan karantina dan kontrol perbatasan.

Namun, klaster baru COVID-19 dalam beberapa pekan belakangan memicu kekhawatiran di kalangan pejabat kesehatan.

"Wabah ini berbeda dari wabah sebelumnya," kata Menteri Kesehatan Nguyen Thanh Long saat rapat pencegahan COVID-19, Minggu (18/7).

"Kami sedang mempersiapkan dan bersiap untuk skenario buruk dan yang paling buruk."

Pembatasan ketat sebelumnya diberlakukan di wilayah selatan, tempat tiga perempat dari infeksi baru terdeteksi.

Vietnam berhasil mempertahankan kasus COVID-19 relatif rendah berkat pengujian massal yang ditargetkan dan pelacakan kontak yang ketat serta aturan karantina dan kontrol perbatasan

Sumber Antara