Waduk Mengering, Terancam Gagal Panen

Waduk Mengering, Terancam Gagal Panen
Waduk Mengering, Terancam Gagal Panen

jpnn.com - BOJONEGORO - Musim kemarau berdampak pada debit air sungai di Bojonegoro. Misalnya, Waduk Pacal yang saat ini mulai mengering. Air yang ditampung waduk tersebut saat ini hanya tersisa sekitar 300 ribu meter kubik.

"Sejauh ini (volume air) bendungan masih aman," kata Arifin, pengawas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Bengawan Solo seperti dilansir Radar Bojonegoro, Senin (14/10). Hanya, lanjut dia, jika hujan tidak segera turun dan debit air Waduk Pacal tidak bertambah, kondisi itu bisa berbahaya.

Dia menjelaskan bahwa pintu pengeluaran air Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, mulai ditutup 1 Oktober lalu. Saat itu posisi air di dalam waduk sekitar 600 ribu meter kubik. "Setelah itu, volume air terus berkurang," tuturnya.

Menurut Arifin, mengeringnya Waduk Pacal itu, di antaranya, disebabkan air keluar melalui pintu pengeluaran yang rusak. Jumlahnya mencapai 0,223 meter kubik per detik. Berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya, air waduk biasanya kembali terisi pada akhir Oktober.

Akibatnya, lanjut Arifin, tanaman padi ikut terdampak. Pihaknya menerima laporan soal kegagalan panen di sejumlah wilayah karena keringnya waduk. "Itu terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Balen dan Sumberrejo. Tanaman padi yang jauh dari irigasi bisa dipastikan gagal panen," tegasnya.

Sementara itu, Kasi Operasi UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Mucharom mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mengingatkan berbagai pihak, termasuk Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) di kawasan irigasi Waduk Pacal, agar menanam palawija. "Kalau semua menanam padi, jelas kurang airnya," pungkasnya. (ade/JPNN)


BOJONEGORO - Musim kemarau berdampak pada debit air sungai di Bojonegoro. Misalnya, Waduk Pacal yang saat ini mulai mengering. Air yang ditampung


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News