Rabu, 27 Maret 2019 – 07:59 WIB

Waktu Kecil, Ani Yudhoyono Jagoan Lho...

Senin, 18 Februari 2019 – 07:00 WIB
Waktu Kecil, Ani Yudhoyono Jagoan Lho... - JPNN.COM

jpnn.com - Ani Yudhoyono berbagi kisah hidup. Sarat nilai-nilai luhur.  
 
Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network
 
Sarwo Edhie Wibowo memboyong istrinya tinggal ke rumah sebuah rumah sederhana di Jl. Serayu, dekat Kali Code, Yogyakarta.
 
Masa itu situasi berangsur pulih setelah pengakuan kedaulatan kemerdekaan Republik Indonesia oleh Belanda, 27 Desember 1949.
 
Di rumah kecil itulah, pada 6 Juli 1952, Ani Yudhoyono lahir dari rahim Sunarti Sri Hadiyah.
 
“Aku sendiri lahir,” kata istri mantan Presiden SBY itu, “dengan nama Kristiani Herrawati.”
 
Dalam buku Ani Yudhoyono—Kepak Sayap Putri Prajurit, besutan Alberthine Endah, Bu Ani menceritakan perihal namanya.
 
“Ada kisahnya tersendiri. Saat aku lahir, Papi sedang ditugaskan di Batalyon Kresna di Yogyakarta. Ini sebuah kebetulan, karena Papi juga sangat mengagumi tokoh pewayangan yang berkarakter baik, Kresna,” kenangnya.
 
“Begitu aku lahir,” sambung dia, “Papi langsung mendapat ilham untuk menyematkan Kresna dalam namaku. Tentu saja tidak mungkin aku diberi nama Kresna, karena identik dengan laki-laki. Ditambahi wati-pun terdengar lucu, Kresnowati.”
 
Sarwo Edhy, yang kemudian hari menjadi sangat terkenal sebagai komandan RPKAD, tetap memberi putri ketiganya tersebut nama yang sebunyi dengan Kresna.
 
“Akhirnya, Papi memberiku nama: Kristiani. Sedangkan nama Herrawati dipilih Papi dari penggalan kisah yang pernah diceritakan ayahnya. Herrawati memiliki makna kekuatan yang bisa menyapu bersih haling rintang saat terjadi huru-hara.”
 
Semasa kanak-kanak, mantan ibu negara Republik Indonesia terkenal sebagai jagoan panjat pohon.
 
Seringkali, kawan sepermainan—termasuk kakak-kakaknya-- hanya memanjat sampai batas ketinggian tertentu. Lain dengan Ani. Dia belum puas bila tidak mencapai dahan tertinggi. Meski sendirian.
 
“Aku bisa berjam-jam duduk di dahan,” kenangnya. “Biasanya aku baru turun kalau sudah diteriaki Ibu untuk mandi atau makan. Cara aku turunpun sangat lincah, persis Tarzan. Bangga rasanya jadi jagoan kecil pemanjat pohon.”
 
Agaknya Sarwo Edhie tahu betul cara mendidik anak. Dia kerap bercerita tentang sejarah garis keturunannya yang sarat nuansa kepahlawanan.
 
“Sejarah keluarga adalah sesuatu yang kami hafal di luar kepala. Sejak kami kecil, Papi selalu menanamkan penghargaan pada leluhur,” kata Ani, yang dapat mengingat silsilah keluarga hingga sekian lapis generasi.
 
Di lain kesempatan, Sarwo Edhy menggelar semacam forum keluarga. Masing-masing kemudian saling berbagi cerita.
 
“Papi selalu mendengarkan semuanya dengan penuh keseriusan. Kami dilarang menertawakan adik-adik yang lebih kecil. Semua sama dan layak dihormati.”
 
Menurut Ani, Papinya senantiasa berpesan, “jangan takut berbicara pada siapa pun, selama kita hormat dan santun. Tidak perlu minder, apalagi gentar. Semua manusia memiliki martabat.”
 
Di lingkungan keluarga yang semacam itulah, perempuan yang turut serta mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden Indonesia dididik.
 
“Dalam hidup,” sebagaimana diceritakan Ani, “orang tuaku mengajarkan bahwa setiap detik adalah limpahan rahmat Tuhan di mana manusia bisa melakukan banyak hal yang penuh makna.”
 
Pepatah kuno, ada perempuan hebat di balik lelaki hebat, terbukti benar. SBY sadar betul akan hal itu.
 
Pada sebuah kesempatan di Tampak Siring Bali, tulis Alberthiene Endah, SBY bertutur, “syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekali lagi, karena saya dikaruniai seorang istri yang memberikan cahaya tanpa henti dalam hidup saya, seorang Ani…”
 
Belakangan beredar kabar bahwa jagoan kecil pemanjat pohon itu sedang dirawat. Semoga semua segera membaik… (wow/jpnn)

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar