Warga Muda Korea Selatan Tidak Menghendaki Reunifikasi

Selatan menjadi negara dengan teknologi tinggi dan warganya hidup dalam suasana penuh persaingan, sementara Utara mandek dan semua direncanakan dari pusat.
Warga muda Korea Selatan melihat perbedaan yang begitu besar itu membuat reunifikasi tidak akan bisa berjalan mulus.
Seorang mahasiswa Tae-wan Kim mengatakan generasi muda tidaklah mau membayar biaya bagi perujukan kembali yang bisa mencapai puluhan miliar dolar.
"Generasi kami berpikir mengapa kami harus membayar miliaran dolar, ini bukan tugas kami. Kami sudah berjuang membuat perekonomian bagus, kami sudah berkorban, mengapa harus membuang semua itu." katanya.

"Saya kira mustahli untuk memperkecil jurang perbedaan. Korea Selatan adalah demokrasi, Korea Utara adalah komunis. Ada perbedaan 180 derajat."
Generasi muda mengatakan bahwa membanjirnya warga Korea Utara akan mengancam kesejahteraan Korea Selatan, dan mahasiswi S2 Kyeyu Kwak memperkirakan hakl itu bisa membuat persaingan lebih ketat untuk masuk ke universitas atau mencari pekerjaan.
"Warga Korea Utara pasti lebih susah untuk beradaptasi dengan budaya Korea Selatan, karena teknologi kami sudah berkembang begitu canggihnya, dan bahasa kami juga sudah sangat berbeda." katanya.
- Industri Alas Kaki Indonesia Punya Potensi Besar, Kenapa Rawan PHK?
- Apa Arti Kemenangan Partai Buruh di Pemilu Australia Bagi Diaspora Indonesia?
- Dunia Hari Ini: Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Atas Terpilihnya Lagi Anthony Albanese
- Mungkinkah Paus Baru Datang dari Negara Non-Katolik?
- Partai Buruh Menang Pemilu Australia, Anthony Albanese Tetap Jadi PM
- Dunia Hari Ini: Israel Berlakukan Keadaan Darurat Akibat Kebakaran Hutan