Selasa, 19 Maret 2019 – 02:31 WIB

Widows Andalkan Kekuatan Akting Viola Davis

Jumat, 14 Desember 2018 – 23:49 WIB
Widows Andalkan Kekuatan Akting Viola Davis - JPNN.COM

jpnn.com - Widows merupakan film sutradara Steve McQueen setelah 12 Years a Slave (2013) yang membawanya meraih Best Picture Oscar. McQueen tentu tidak ingin film comeback-nya kali ini gagal. Dia memulai langkah pasti dengan menunjuk aktris peraih Oscar, Viola Davis, untuk memerankan karakter Veronica.

Dia adalah istri Harry (Liam Neeson). Harry merampok bersama timnya. Nahas, Harry dan rekan-rekannya tewas. Tak hanya meninggalkan Veronica seorang diri, Harry juga ternyata meninggalkan masalah. Dia memiliki utang senilai USD 2 juta (Rp 29 miliar) kepada politikus sekaligus preman bernama Jamal (Brian Tyree Henry).

Di tengah duka dan kebingungannya, Veronica menemukan buku harian suaminya. Buku itu berisi catatan kriminal. Berbekal petunjuk dari sana, Veronica merencanakan perampokan senilai USD 5 juta (Rp 72,5 miliar).

Dia mengajak janda-janda partner Harry yang juga telah tewas. Ada Linda (Michelle Rodriguez) yang memiliki sebuah toko pakaian, Alice (Elizabeth Debicki) yang menjadi korban kekerasan suaminya, serta teman Linda bernama Belle (Cynthia Erivo) yang menjadi penata rambut.

Skenario film itu diadaptasi dari drama kriminal TV yang tayang pada 1983 dan 1985. Gillian Flynn dan Steve McQueen menulis skenarionya dengan sangat baik, tentu saja. Ditambah eksekusi dari para aktor yang baik membuat film tersebut jaminan mutu. Belum lagi plot twist-nya yang mengejutkan.

"Liku-liku plot Widows itu sangat memuaskan. Ini bukan hanya film dengan konstruksi cerdas, tapi mewujudkan keinginan McQueen dan Flynn untuk memberikan kedalaman dalam film perampokan," tulis Molly Templeton, kritikus dari Eugene Weekly.

Peran Davis menjadi faktor kunci film itu. Di balik keputusannya melakukan perampokan, Davis menampilkan sisi lain Veronica yang sebetulnya adalah korban sesungguhnya. Dalam hal tersebut, McQueen menyelipkan pesan feminisme.

"Itu menunjukkan bahwa dia adalah korban dari sebuah permainan kekuatan masyarakat yang masih dimainkan pria," tulis Owen Gleiberman, kolumnis Variety.

Sumber : Jawa Pos
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar