Zaytun Salmon

Oleh: Dahlan Iskan

Zaytun Salmon
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Begitu dua kapal baru itu meluncur ke laut, akan segera dibangun kapal ketiga dan keempat.

Al Zaytun sebenarnya ingin membeli lahan bekas madrasah Darussalam yang terjepit di antara lahannya. Agar menyatu dalam satu hamparan.

Madrasah itu sudah lama mati. Punya masalah di internal keluarga mereka. Al Zaytun tidak mau terbawa ke konflik keluarga.

Dari galangan kapal ini madrasah itu terlihat dekat. Pun kubah masjidnya yang besar. Madrasahnya sudah tutup. Masjidnya sudah lama tidak dipakai.

Di galangan ini kami tidak hanya melihat kapal baru itu dari luar. Kami naik ke atas geladaknya. Menjenguk ruang mesinnya. Sayang kalau tidak diluncurkan.

Rupanya soal pertanian dan peternakan sudah selesai ditata di Al Zaytun. Maka gilirannya terjun ke perikanan laut.

Syekh Panji memang sangat memperhatikan kualitas makanan santrinya yang di atas 5.000 orang itu.

Di pesantren itu selalu ada sajian ikan salmon dan tuna. Yang kandungan proteinnya tinggi. Di dua jenis ikan itulah Al Zaytun belum mandiri.

Syekh Panji memang sangat memperhatikan kualitas makanan santri Al Zaytun yang di atas 5.000 orang itu. Di pesantren itu selalu ada sajian ikan salmon dan tuna.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News