Sabtu, 25 Oktober 2014 | 12:34:13
Home / Features / Keluarga Besar Soetoro, Kerabat Dekat Obama di Jakarta

Rabu, 05 November 2008 , 10:16:00

BERITA TERKAIT

KELUARGA besar Soetoro ikut degdegan saat pemilihan presiden Amerika digelar kemarin. Sebab, mereka punya ikatan emosional dan hubungan keluarga dengan Barack Obama. Terutama, saat Obama menjalani masa kecil di Indonesia.

Laporan RIDLWAN HABIB, Jakarta

Keluarga besar Lolo Soetoro, ayah tiri yang mengasuh Barack Obama di Indonesia, bangga luar biasa punya kerabat dekat yang bakal memimpin negara terkuat di dunia. Meski terpisah ribuan kilometer, mereka kemarin berkumpul untuk berdoa agar Barry Soetoro, nama panggilan senator asal Illinois saat tinggal di Menteng, Jakarta, itu memenangi pemilihan presiden di Amerika Serikat.

"Kami yakin si Barry menang, tapi kami resah karena ada banyak ancaman pembunuhan yang nggegirisi (menakutkan)," ujar Ir Heri Purnomo, sepupu Maya Kasandra Soetoro (adik Barack Obama), kepada Jawa Pos pada reuni keluarga di rumahnya, kawasan Rawalumbu, Bekasi, kemarin.

Maya Soetoro adalah anak Ann Dunham, ibu Barack Obama, pada perkawinan keduanya dengan Lolo Soetoro. Keduanya bertemu saat kuliah di Hawaii, AS. Dengan demikian, Maya adalah adik kandung lain ayah dengan Obama (ayah Obama sendiri adalah Barack Hussein Obama Sr asal Kenya, Afrika). Setelah perkawinan pada 1965 itu, Obama yang saat itu masih kecil dibawa ke Jakarta.

Pada pilpres yang berlangsung kemarin, Maya yang kini tinggal di Hawaii itu punya peran besar. Sebab, dia masuk jajaran tim sukses Obama yang diusung Partai Demokrat itu.

Selama 14 tahun pernikahan Ann Dunham dengan Soetoro (1965 menikah, 1970 pisah ranjang, 1979 resmi cerai) banyak kenangan yang masih diingat kuat dalam memori keluarga Soetoro. Terutama, saat si Barry, panggilan akrab Obama, tinggal di Menteng Dalam, Jakarta, dan sesekali diajak ke rumah eyangnya di Jayeng Prawiran, Jogjakarta.

Heri Purnomo adalah putra tunggal Supoyo Martodihardjo, kakak Lolo Soetoro. "Om Lolo itu putra ke-9 dari 10 bersaudara," ujarnya.

Kakek Heri, Martodihardjo adalah seorang mijn bow (pegawai pertambangan) yang sering keliling Indonesia. Mereka mempunyai rumah joglo berbentuk pendapa di Jalan Jayeng Prawiran 14, Jogjakarta. Rumah itu hanya lima menit berjalan kaki dari Kompleks Kadipaten Pakualaman yang sekarang dipimpin Sri Pakualam IX .

Urutan silsilahnya, anak pertama Supoyo, lalu Supomo, Ny Cuk Muhsidi, Sugiyo, Bambang Sugito, Titik Imam Sutiknyo, Din Trisulo, Soemitro, Soetoro, dan Uki Gunowiyono. "Jadi, kakek saya itu punya 4 putri dan 6 laki-laki," katanya.

Menurut Heri, Lolo adalah nama panggilan sejak kecil Soetoro. "Beliau lahir di Bandung 1935," ujar pensiunan pegawai PT Perumnas itu. Pria yang kini berusia 59 tahun itu menambahkan, pamannya menempuh pendidikan geografi di Universitas Gadjah Mada.

"Om Lolo adalah mahasiswa yang cerdas. Karena itu, dia mendapat beasiswa ikatan dinas di Dinas Topografi TNI Angkatan Darat. Itu satu-satunya di trah keluarga kami," katanya.

Karena dinilai berprestasi, Lolo lalu mengambil master di Hawaii University sekitar 1964. Di sanalah pria yang suka bercanda itu bertemu Ann Dunham dan menikah pada 1965.

Menurut Heri, eyang putrinya sangat sayang dengan Lolo. Om juga begitu. Beliau sering kirim uang dolar saat masih menempuh pendidikan di Hawaii. "Ya, kadang sampai, kadang juga hilang di jalan. Maklum, tahun-tahun itu adalah era akhir Orde Soekarno saat situasi serbasulit," katanya.

Apakah saat akan menikah, minta izin dulu ke ibunya? "Seingat saya kok tidak ya, Mas. Tapi, eyang itu orangnya sangat demokratis, jadi tidak masalah," katanya.

Baru setelah mereka boyongan ke Indonesia, Soetoro tinggal di Menteng Dalam, Jakarta. Ann Dunham lalu diperkenalkan ke ibu Martodihardjo.

"Tante Ann itu orangnya santun. Pernah suatu saat dia mengelus kepala eyang saya. Eh, semuanya tersenyum. Baru setelah acara Ann diberi tahu kalau mengelus kepala orang tua di Jawa itu sangat tidak sopan. Tante kaget, lalu minta maaf. Eyang hanya tertawa," kata Heri.

Meski dinas di Jakarta, Soetoro sering mengajak Barry ke Jogjakarta. "Mereka sering main ke rumah eyang. Kebetulan ayah dulu tinggal bersama eyang. Jadi, saya ingat betul saat Barry lari-lari ke sana kemari," kata bapak dua anak itu.

Kalau sedang di rumah eyangnya, Barry kecil paling lahap makan. "Hobi banget sama ayam baceman. Kalau yang lain satu ayam dipotong-potong, dia pinginnya satu ayam dimakan sendiri," kata alumnus Teknik Arsitektur UGM itu lantas tertawa.

Saat Barry sering main ke Jogja, usia Heri sudah 17 tahun. Jadi, dia ingat betul sering dicubit oleh Barry kecil. "Saya sudah SMA, waktu itu di SMA 3 Padmanaba," katanya.

Tante Ann, kata Heri, sangat senang bergaul dengan orang-orang biasa. "Suka naik becak ke Malioboro. Suka ke pasar, pokoknya orangnya merakyat sekali," kata suami Trisiswati itu.

Sedangkan Lolo, karena ganteng, terkadang sering ditaksir wanita. "Om saya itu charming, pokoknya bikin cewek kesengsem," katanya. Tapi, saat sudah punya Ann, Lolo sangat sayang pada sang istri. "Pokoknya mesra," katanya.

Lepas dari ikatan dinas di TNI-AD, Lolo bekerja di PT Unocal (sekarang Chevron) sebagai ahli survei lokasi pertambangan minyak. "Kami sering wisata keluarga. Saya ingat waktu ke Jenar (dekat Purworejo, Jateng), pakai mobil milik Pertamina. Toyota putih, Om Lolo yang meminjamkan," katanya.

Mantapnya langkah Barack Obama menjadi calon kuat presiden AS juga membuat Rahayu Nurmaida Soetoro, 24, adik Maya Soetoro, gembira. Ayu, panggilan akrab Rahayu Nurmaida Soetoro, adalah anak Soetoro pada pernikahan kedua (pasca bercerai dengan Ann Dunham, ibu Barack Obama). Yakni, dengan ibu Ayu, Erna Kustina.

"Saya sih memang belum pernah bertemu atau berkomunikasi langsung dengan dia (Obama, Red). Tapi, kalau dengan adik tirinya, Maya Soetoro, sering," kata ibu satu anak ini saat ditemui di rumahnya, Jalan Pangeran Emir M. Noer, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung, tadi malam.

Kalau Barack Obama memenangi pilpres ini, Ayu bangga punya "kakak tiri" yang menjadi orang nomor satu di negara adidaya.

Sebelum meninggal pada Maret 1987, kata Ayu, Lolo sempat mengenalkan Yusuf (anak pertama, kakak Ayu) dan Ayu pada kakak tiri mereka, Maya Soetoro. "Tapi, saya yang akrab dengan Maya. Kalau Mas Yusuf, nggak. Mungkin karena perempuan sama perempuan kali ya," urai Ayu yang menikah pada 2006.

Kali terakhir dia bertemu Maya, kata Ayu, secara langsung sebelum bom Bali II. Saat itu Maya berziarah ke makam Lolo di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta.

Kepada dia, Maya mengatakan berencana membuka sekolah internasional di Pulau Dewata itu. Bahkan, dia telah menyurvei sebuah lahan di Bali untuk menunjukkan keseriusannya. "Tapi, batal karena bom Bali II," tandas Ayu.

Sejak itu, Ayu terus berkomunikasi dengan Maya. Kira-kira sebulan lalu, Maya mengirimkan sebuah email kepada dirinya. "Dia meminta Obama didoakan agar bisa menang, jadi presiden AS," ungkap Ayu. (el)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 19.02.2013,
        00:12
        aisyah ladha
        neng ayu ini bu'de isyah yg dulu tinggal di komplek kejagung cipayung ciputat,bgm mama dan mas aji sehat?