Rabu, 30 Juli 2014 | 20:08:15
Home / Politik / Legislatif / DPR Warning Pebisnis Penerbangan

Senin, 14 Mei 2012 , 08:30:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA–Manisnya pasar bisnis transportasi udara di Indonesia kerap membuahkan persaingan sengit antara bos-bos maskapai penerbangan. Ditambah lemahnya pengawasan pembelian pesawat dari pabrikan luar negeri dan kentalnya aroma patgulipat di balik pengadaan serta perizinan pesawat untuk laikmengudara pun diduga menjadi  penyebab banyaknya kecelakaan udara di langit Indonesia.

Karena itu, desakan agar para pemain bisnis aviasi agar lebih mengutamakan keselamatan penumpang dibanding keuntungan besar, dilontarkan sejumlah anggota DPR dan tokoh nasional. Salahsatunya Anggota Komisi V DPR Arwani Tohmafi.

Politisi PPP ini mengatakan bahwa dalam pembelian alat transportasi massa seperti pesawat Sukhoi Superjet 100, yang perlu diutamakan adalah aspek keselamatan, bukan bisnisnya. “Ini yang harus dijadikan landasan bagi para pemain bisnis penerbangan. Nomer satu haruslah keselamatan. Karena itu, kelayakan bisnis itu harus disandingkan dengan terpenuhinya aspek keselamatan. Bagaimanpun ini menyangkut nyawa banyak orang,” ujar Arwani kemarin, (13/5).

Arwani menyoroti, adanya pola perkembangan dunia marketing, khususnya dalam jual beli transportasi massa seperti pesawat yang awalnya hanya sebatas pameran sampai pihak maskapainya mendatangi konsumen dan mengajak melakukan demo penerbangan. Perubahan pola bisnis ini tentunya terkait dengan pasar penerbangan Indonesia yang sangat potensial. Para produsen pesawat di luar tentunya akan sangat tertarik dengan Indonesia.

“Namun, meski pola perkembangan marketing semakin dinamis, pemerintah tetap jangan sampai longgar memberikan pengawasan dalam proses pembelian alat transportasi tersebut. Karena Keselamatan harus jadi yang utama, jadi jangan hanya bicara soal bisnis tetapi tidak memberikan jaminan keselamatan, di sinilah peran regulator yang tegas dibutuhkan” kata Arwani.

Tidak hanya itu, kritik lemahnya pengawasan dan mudahnya perizinan kelaikan udara di Indonesia juga diungkapkan oleh Anggota Komisi V dari Fraksi PKS, Yudi Widiana Adia. Dirinya menegaskan bahwa, pemerintah dalam hal ini, Kemenhub sebagai pihak yang bertanggung jawab mengatur dan memberikan izin laik atau tidaknya pesawat mengudara di laingit Indonesia harus bisa memberikan penjelasan. Karena dalam kasusu kecelakaan Sukhoi ini, ada dugaan bahwa Sukhoi Super Jet 100 (SSJ-100) pada Rabu (9/5) melanggar UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Karena Sesuai dengan pasal 38 UU Penerbangan, semua pesawat yang uji terbang harus mendapatkan izin dan sertifikat kelaikudaraan dari pemerintah. Kemenhub sebagai otoritas pemerintah yang mengatur penerbangan harus bertanggung jawab. “Berdasarkan pasal 38 Sertifikat kelaikudaraan khusus diberikan untuk pesawat udara yang penggunaannya khusus secara terbatas (restricted), percobaan (experimental), dan kegiatan penerbangan yang bersifat khusus,” kata politisi asal PKS itu dalam keterangan tertulisnya yang diterima INDOPOS (Grup JPNN).

Hal ini, kata Widiana, dipertegas dalam penjelasan pasal 38 ayat c yang berbunyi penggunaan pesawat udara untuk kegiatan penerbangan yang bersifat khusus adalah izin terbang khusus yang diterbitkan untuk pengoperasian pesawat udara untuk keperluan perbaikan atau perawatan, pengiriman atau ekspor pesawat udara, uji terbang produksi (production flight test), evakuasi pesawat dari daerah berbahaya atau demonstrasi terbang.

Terkait dengan kelalaian ini, Yudi Widiana, meminta pihak penyelenggara dan Kemenhub bertanggung jawab. “Musibah ini menunjukan lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh Kemenhub. Seharusnya joyflight ini bisa dicegah jika memang tidak memenuhi persyaratan yang diatur dalam UU yang berlaku di Indonesia, untuk hal-hal yang tidak diinginkan bisa dihindari,” kata Yudi.

Yudi juga mengaku dirinya melihat adanya kelalaian pihak otoritas bandar udara dan penyelenggaran demo terbang pesawat Shukoi seperti manifes penumpang terbawa panitia yang ikut joy flight dan penetapan rute penerbangan dilakukan sepihak oleh PT Trimarga Rekatama selaku representatif dan penghubung produsen Shukoi dengan pembeli di Indonesia.

Sementara itu, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, insiden jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 saat melakukan joyflight di kawasan Gunung Salak, Bogor, seharusnya menjadi pertimbangan bisnis bagi para pemain industri penerbangan. “Tentunya insiden ini akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi pelaku bisnis penerbangan di Indonesia untuk menggunakan pesawat Sukhoi SSJ-100 tersebut. Ini kan b to b (bussiness to bussiness), pasti dipertimbangkan, karena menyangkut jiwa manusia dan bisnis,” tuturnya.

Mantan menteri perumahan rakyat Suharso Monoarfa yang tadinya berniat inigin membeli beberapa unit Sukhoi Super Jet 100, mengaku mengurungkan niatnya. Padahal, politisi PPP ini sempat melihat-lihat kondisi pesawat sesaat sebelum melakukan demo terbang karena berniat membeli pesawat asal Rusia tersebut.  “Kehadiran saya dalam kapasitas mau beli pesawatnya. Saya tanya pembiayaannya, fasilitasnya, biaya termahalnya berapa. Dijelaskan mereka mau datang ke kantor untuk
presentasi,” ujar Suharso saat dihubungi wartawan.

Rencananya Suharso akan membangun satu jalur di Indonesia Timur bagian Selatan. Dengan kejadian seperti ini, dia mengaku akan pikir ulang. “Dilihat dulu human eror apa cuaca. Sama saja kaya naik sepeda kan. Kalau pun misalkan saya jadi dengan bisnis, saya akan pertimbangkan. Masih bisa dipertimbangkan,” tuturnya.

Suharso yang sempat ditawari pihak Sukhoi untuk ikut serta dalam demo terbang tersebut, mengaku bersyukur tidak jadi ikut serta dalam rombongan. Hal itu karena dirinya sempat ragu, dan akhirnya memutuskan untuk tidak ikut. Kendati demikian, dia mencoba mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. “Nah hikmah yang saya ambil dari situ, kalau kita ragu lebih bagus tidak, mending jangan. Untuk mengkonfirmasikan keraguan enggak ada salahnya menanyakan orang yang kita percaya, begitu enggak perlu nggak usah berangkat,” katanya.

Lalu, apa alasan Sukhoi Super Jet 100 ini tiba-tiba menjadi favorit bagi pemain bisnis penerbangan? Bahkan sempat beredar isu bahwa banyak maskapai Indonesia pun berebut memesan pesawat ini?

Berdasarkan data yang dihimpun INDOPOS, sebetulnya ada beberapa alasan mengapa pesawat ini banyak dimintai di negara-negara kepulauan. Pertama, SSJ 100 merupakan pesawat angkut yang paling efisien di kelasnya. Konfigurasi aerodinamiknya didesain secara khusus untuk mengoptimalkan untuk cruise M-speed yang tinggi. Makanya, makin cepat pesawat ini dipacu, tidak bakal meningkatkan konsumsi bahan bakar.

Kedua, SSJ100 juga didesain untuk bisa take off dan landing dalam segala cuaca apapun. Sehingga bisa menurunkan risiko kecelakaan dan efisiensi itu tadi ditambah ruang kabin yang luas dan lega bagi penumpang. Jarak antara kursi yang luas namun tetap menampung penumpang yang banyak membuat pesawat ini ekonomis sekali untuk penerbangan bisnis.

Terakhir SSJ100 terbukti menurunkan 10 persen biaya operasional dari semua sisi, baik bahan bakar, pemeliharaan, dan sebagainya. Ditambah, teknologi menyimpan energi pada semua  lampu baik di kabin dan ruang penumpang membuat biaya pemeliharaan listrik berkurang.

Menanggapi hal itu, pemerhati industri penerbangan, Alvin Lie mengatakan, pesawat komersial Rusia dan China itu kualitasnya hampir sama. Jika dibandingkan dengan pesawat buatan Amerika dan Eropa, beberapa sistemnya bahkan lebih baik. “Buatan mana saja asal sudah mempunyai sertifikasi dari Eropa dan Amerika berarti layak terbang,” ujarnya.

Sukhoi yang dibangun sejak 1939, dikenal sebagai pesawat militer. Berbagai varian pesawat tempur digunakan oleh lebih dari 20 negara. Indonesia termasuk pemakai pesawat buatan Rusia itu, yakni jenis MK27 dan MK30. Rencananya, Indonesia tahun ini menambah satu skadron (16 pesawat tempur).

Kebangkitan industri pesawat komersial Rusia dimulai sejak 2000. Tujuh tahun kemudian, lahir Sukhoi Superjet 100. Pada 2008, pesawat ini melakukan uji coba terbang dan terbang perdana pada rute komersial dari Yereven ke Moskow pada 21 April 2011.

Sukhoi menggandeng Boeing asal Amerika Serikat sebagai konsultan untuk pemasaran, manajemen desain, sertifikasi, manufaktur dan program dukungan purnajual. Pesawat ini juga dilengkapi berbagai komponen buatan Prancis dan Inggris. Hasilnya, Sukhoi yang dijual dengan harga 32 juta dolar AS (setara Rp 288 miliar) ini diklaim lebih irit bahan bakar 10 persen ketimbang pesawat di kelasnya.

Sedangkan China, mulai mengembangkan industri pesawat komersial pada 1980. Melalui Xian Aircraft Company, cikal bakal produsen pesawat militer sejak 1958, mengembangkan pesawat penumpang digenjot. Xian juga mengajak Boeing sebagai konsultan dan berbagai perusahaan pesawat asal Kanada, Italia, Prancis, serta Jerman. (dms)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar