JPNN.com

32,1% Anak Sekolah di Indonesia Ketagihan Merokok

Selasa, 18 Februari 2020 – 17:03 WIB 32,1% Anak Sekolah di Indonesia Ketagihan Merokok - JPNN.com
dr Grace Wangge PhD, peneliti senior Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) Universitas Indonesia/SEAMEO RECFON. Foto: Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Sebanyak 32,1 persen anak sekolah (rentang usia 10-18 tahun) di Indonesia ketagihan merokok.

Menurut dr Grace Wangge PhD, peneliti senior Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) Universitas Indonesia/SEAMEO RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Regional Centre for Food and Nutrition), kondisi ini harusnya disadari sekolah bahwa terdapat hubungan erat antara prestasi belajar anak dengan pola konsumsi keluarga perokok.

"Berdasarkan data dari Pusat Kajian Jaminan Sosial UI (PKJS UI), anak dari keluarga perokok terbukti 5,4 kali lebih rentan mengalami stunting dibandingkan anak dari keluarga tanpa rokok," kata Dokter Grace dalam peluncuran policy brief di Jakarta, Selasa (18/2).

Dia memberikan apresiasi kebijakan pemerintah terkait kenaikan cukai rokok sebesar rata-rata 23 persen pada 1 Januari 2020. Namun, diharapkan alokasi cukai rokok di bidang kesehatan perlu dikawal.

Khususnya pengalokasian pajak rokok dan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCT) untuk kesehatan, yang hingga kini belum diimplementasikan secara maksimal dalam program pencegahan serta promosi penanganan stunting.

Lebih lanjut dikatakan Dokter Grace, salah satu aspek yang erat kaitannya dengan peningkatan status kesehatan dan gizi anak sekolah adalah peningkatan pengetahuan siswa serta pencegahan menjadi perokok.

Belanja bahan makanan pada rumah tangga perokok lebih rendah dibandingkan rumah tangga non-perokok.

"Ini menyebabkan berkurangnya asupan makanan bergizi dalam keluarga dan akhirnya berimbas pada kemampuan anak untuk berkonsentrasi pada pelajaran sekolah," terangnya.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
tomo