5 Ribu Warga Belum Ditemukan, Diduga Tertimbun Lumpur

5 Ribu Warga Belum Ditemukan, Diduga Tertimbun Lumpur
Sejumlah warga meninggalkan perkampungan di wilayah Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). Foto: HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS

”Daripada mengaduk-aduk (lumpur) 3 meter yang kita juga tidak tahu korban di mana. Pada saat likuifaksi rumah-rumah bergeser, bergerak, hanyut sambil tenggelam,” ujar Sutopo.

Di Petobo dan Balaroa diperkirakan masih ada 5.000 orang yang belum ditemukan. Tapi, pengakuan dari pengurus kelurahan itu perlu pendataan lebih lanjut dari petugas BNPB. ”Memang tidak mudah untuk mendata berapa pasti korban yang tertimbun oleh material longsoran maupun akibat likuefaksi. Evakuasi terus dilakukan,” ucapnya.

Bahkan, kondisi lumpur akibat likuifaksi di Jono Oge, Kabupaten Sigi, masih basah. Telah ditemukan 33 korban meninggal selama lima hari pencarian di area terdampak likuefaksi seluas 202 hektare. Sesuai rapat koordinasi di pos pendamping nasional pada Sabtu pagi (6/10), petugas membutuhkan sedikitnya enam ekskavator amfibi yang bisa mencari di area berlumpur.

”Kami meminta PU (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Red) untuk mencari atau menyewa ekskavator amfibi. Ya, juga sulit nyarinya. Ya, kita berkejaran waktu dengan keterbatasan yang ada,” ungkap dia.

Masa tanggap darurat hingga Kamis (11/10) itu memang bisa diperpanjang. Bergantung pada hasil koordinasi dengan seluruh tim yang menangani bencana. Tapi, meski masa tanggap bencana disudahi, tidak berarti pencarian dihentikan seluruhnya. Tetap ada pencarian korban, tapi secara terbatas. Jumlah tim pencari dan alat berat tidak sebanyak saat tanggap darurat. Sebab, petugas juga akan ditugasi untuk membersihkan puing-puing akibat gempa.

”Karena dalam proses evakuasi, apalagi 14 hari, korban sudah meninggal dan kalaupun ketemu kondisinya juga tidak utuh. Oleh karena itu, dinyatakan hilang,” jelasnya.

Lokasi yang terdampak likuifaksi itu sangat mungkin tidak akan dijadikan perumahan kembali. Warga akan direlokasi di tempat yang lebih aman. Lokasi bekas likuifaksi bisa menjadi fasilitas publik. Contohnya, area terbuka hijau, hutan kota, tempat olahraga, fasilitas pendidikan yang bersifat umum, dan museum.

”Kita memerlukan bangunan seperti museum itu sebagai penanda yang selanjutnya masyarakat akan belajar banyak akan teredukasi. Kemudian, kita latihkan agar masyarakat siap menghadapi bencananya,” jelas dia. (elo/tyo/jun/c10/agm)


Masih banyak warga Petobo yang belum jelas kabarnya, diduga terkubur di area permukiman yang kini telah rata dengan tanah.


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News