Adam Eva

Oleh: Dahlan Iskan

Adam Eva
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Disebutkan, aktivis dari GU mengumpulkan iklan duka cita. Dicatat nama yang meninggal. Siapa istri atau anaknya. Dicari alamatnya.

Rumah mereka itu diketok. Diucapkan kalimat duka cita. Lalu ditawari jasa agar arwah almarhum bisa bahagia di surga.

Kadang diceritakan juga bahwa roh almarhum baru saja memberitahukan kondisi yang kurang baik yang ia alami di alam sana. Lantas sang roh minta agar diselamatkan.

Marketing akhirat seperti itu tentu mudah. Tidak diperlukan bukti. Yang harus dimiliki adalah kemampuan meyakinkan sasaran marketingnya.

Bahkan awalnya dulu sampai diibaratkan bahwa Korea itu Adam. Jepang itu Eva (Hawa). Yang sama-sama berbuat dosa. Lalu menurunkan dosa kepada anak-cucu. Semua itu harus ditebus. Lewat GU yang mengklaim punya otoritas sebagai perantaranya.

Pendiri gereja Moon, memang mengaku bahwa dirinya utusan Tuhan. Dan banyak yang percaya. Tergiur. Terhipnotis. Uang pun mengalir jauh sampai ke sana.

Yamagama kini di tahanan polisi. Sang Ibu juga tidak punya rumah lagi. Dia tinggal di rumah pamannyi. Surga yang dibeli. Neraka yang dicari. (*)


Berita Selanjutnya:
Virus Taki

Yamagami menuju panggung yang sangat rendah itu. Dari belakang. Dor! Dor! Punggung Shinzo Abe jebol. Rebah. Tewas.


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News