Alexander Solzhenitsyn Tutup Usia

Alexander Solzhenitsyn Tutup Usia
Alexander Solzhenitsyn. Foto: dok/afp
MOSKOW – Rusia kehilangan salah seorang sastrawan terbesarnya. Minggu (3/8) malam, penulis trilogi The Gulag Archipelago yang mengungkap kebrutalan rezim Joseph Stalin, Alexander Solzhenitsyn, tutup usia. Sastrawan, kritikus sekaligus pemikir besar Rusia itu meninggal dalam usia 89 tahun. 

”Sudah bertahun-tahun beliau sakit. Tapi, setiap hari, dia masih tetap berkarya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa kondisi beliau memburuk. Karena itu, wafatnya beliau cukup mengejutkan kami,” terang putra Solzhenitsyn, Stepan, dalam wawancara telepon. Selama ini, penulis bercambang yang selalu berpenampilan rapi itu dilaporkan mengidap penyakit jantung.

Saat ajal menjemput, penulis yang sempat delapan tahun dipenjara di era Stalin itu sedang menyelesaikan revisi 30 karya kumpulannya. Menurut rencana, Solzhenitsyn akan disemayamkan selama dua hari, hingga (5/8), di rumah duka yang terletak di kawasan Troitse-Lykovo, Moskow. Jenazah tokoh anti-Soviet itu akan dimakamkan di Donskoye Monastery, Moskow, Rabu (6/8).

Wafatnya penerima Nobel Sastra 1970 itu mengundang perhatian para pemimpin dan petinggi Rusia. Mulai dari Mikhail Gorbachev, Vladimir Putin hingga Presiden Rusia sekarang, Dmitry Medvedev. Bahkan, sejumlah pemimpin negara tetangga pun ikut melayat dan mengungkapkan bela sungkawanya. Di antaranya Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy.

Dalam kawat duka yang dia kirimkan, Medvedev menyebut Solzhenitsyn sebagai pemikir, penulis dan pejuang kemanusiaan abad 20 yang paling besar di Rusia. Sementara, Gorbachev yakin, nama dan perjuangan sastrawan yang pernah diasingkan pada 1974 itu akan terukir dalam sejarah Rusia. ”Hingga akhir hidupnya, dia masih berjuang agar Rusia lepas dari bayang-bayang totalitarian di masa lalu dan meraih masa depan yang lebih baik,” ungkap Gorbachev seperti dikutip Interfax.

Istri Solzhenitsyn, Natalya, mengatakan bahwa hidup yang harus dijalani suaminya sama sekali tidak mudah. ”Tapi, dia bahagia,” ujarnya. Kepada radio Echo of Moscow, dia menyatakan bakal terus meneruskan perjuangan suaminya dan memublikasikan karya-karya terakhir yang belum sempat disebarluaskan. Sebab, selama ini, tulisan Solzhenitsyn selalu mengubah pemikiran jutaan orang. Terutama dalam memandang masa lalu dan masa depan.

Dilahirkan 11 Desember 1918 di Kislovodsk, Solzhenitsyn muda dikenal sebagai seorang pengikut paham komunis yang loyal. Pada 1945, dia dijatuhi hukuman penjara delapan tahun di kamp Stalin, karena mengkritik pemimpin kejam tersebut dalam surat yang dia kirimkan kepada salah seorang rekan. Dia dibebaskan pada Februari 1953, beberapa pekan sebelum Stalin meninggal dunia.

Setelah itu, dia menjadi guru matematika. Ketenaran Solzhenitsyn di bidang sastra berawal dari novel One Day in the Life of Ivan Denisovich yang dia publikasikan pada 1962. Dalam karya pertamanya, dia mengisahkan kehidupan tawanan yang dipekerjakan paksa di kamp-kamp warisan Stalin. Namun, dia lantas dicap sebagai penghianat dan karya-karyanya dilarang pada masa Leonid Brezhnev. (AP/AFP/hep)
Berita Selanjutnya:
Wan Azizah Mundur Demi Suami

MOSKOW – Rusia kehilangan salah seorang sastrawan terbesarnya. Minggu (3/8) malam, penulis trilogi The Gulag Archipelago yang mengungkap kebrutalan


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News