Alotnya Negosiasi COP 21: Butuhnya Sikap Tegas

Alotnya Negosiasi COP 21: Butuhnya Sikap Tegas
Nur Masripatin sebagai National Focal Point Indonesia untuk UNFCCC di COP24 Katowice. Polandia. Foto: Humas KLHK

Indonesia yang sudah membangun mekanisme MRV (measuring, reporting and verification) sudah relatif maju dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. Sedangkan negara-negara Afrika, meminta hal tersebut diserahkan pada negara masing-masing.

Dari sisi kerangka legal, banyak negara berkembang menginginkan bahwa negara maju memegang prinsip punitive atau adanya sanksi apabila tidak memenuhi target. Namun mayoritas negara maju menginginkan sifatnya fasilitatif. 

Pada kesempatan ini, Utusan Khusus Presiden bidang Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar menyayangkan bahwa terjadi kesenjangan antara pernyataan kepala negara pada hari pertama Leaders Event dengan perkembangan negosiasinya.

Proses negosiasi masih bersifat konvensional mempertahankan posisi negara masing-masing.

Salah satunya dalah isu adaptasi yang menurut sebagian negara maju adalah merupakan isu domestik/local, sedangkan menurut negara berkembang pada umumnya, isu ini sudah menjadi lingkup global.

Pada High Level Segment yang dimulai minggu depan, Indonesia akan mengambil sikap tegas untuk mendorong tercapainya kesepakatan. (adv/jpnn)

 


Proses negosiasi masih bersifat konvensional mempertahankan posisi negara masing-masing.


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News