Anggap Kaderisasi Golkar Mati di Era Airlangga, SOKSI Dukung Bamsoet

Anggap Kaderisasi Golkar Mati di Era Airlangga, SOKSI Dukung Bamsoet
Jubir SOKSI Freddy Latumahina saat menyatakan dukungan organisasinya untuk Bamsoet sebagai Caketum Golkar. Langkah ini juga didukung FKPPI dan Pemuda Pancasila. Foto: M Fathra Nazrul Islam/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) menyatakan dukungan sekaligus dorongan kepada Ketua MPR RI Bambang Soesatyo alias Bamsoet, untuk maju menjadi calon Ketua Umum Partai Golkar dalam Munas, yang rencananya digelar 4-6 Desember mendatang.

Salah satu organisasi pendiri Partai Golkar itu menilai, kepemimpinan partai selama dua tahun terakhir telah keluar dari aturan, sistem dan mekanisme organisasi. Sehingga butuh figur baru untuk mengembalikan gerbong Partai Golkar kepada relnya.

"Dua tahun ini Partai Golkar tidak dikelola sebagaimana mestinya. Prinsip kolektif dalam pengambilan keputusan organisasi telah dicampakkan. Yang ada hanyalah mementingkan sekelompok elite tertentu. Tak heran jika kaderisasi di tubuh Partai Golkar menjadi mati. Hal ini makin menjauhkan Partai Golkar dari muruah partai karya kekaryaan," ujar pengurus pusat SOKSI, Freddy Latumahina di Jakarta. 

Melihat kondisi perekonomian dunia yang masih terguncang, SOKSI mendorong para menteri sebagai pembantu presiden fokus menjalankan tugas dan fungsinya. Jangan sampai para menteri, khususnya yang berada di bidang ekonomi, terpecah konsentrasinya dengan urusan politik. 

"Partai Golkar sudah mempercayakan Airlangga Hartarto untuk membantu Presiden Joko Widodo sebagai Menko Perekonomian. Kepercayaan tersebut harus dijaga dengan baik. Karena itu, Airlangga Hartarto sudah sepatutnya fokus menjalankan amanah dari Presiden Joko Widodo, tanpa perlu direpotkan urusan membesarkan Partai Golkar. Ini sekaligus menunjukan penghormatan Airlangga terhadap Presiden Joko Widodo," tutur Freddy.

Freddy menambahkan, jika konsentrasi para menteri terpecah ke hal lain di luar tugas dan fungsinya, pada akhirnya yang dirugikan bukan hanya Presiden Joko Widodo melainkan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan.

"Apalagi sosok Airlangga Hartarto selama dua tahun memimpin Partai Golkar praktis tidak membawa perubahan apa pun. Salah satu penyebabnya karena rangkap jabatan sebagai menteri. Karena itu kejadian serupa tak perlu diulangi kembali. Membesarkan Partai Golkar butuh konsentrasi dan waktu, yang tak bisa diselingi dengan tugas sebagai menteri yang mengurusi teknis visi misi pembangunan presiden. Jangan sampai akibat ego mengejar ambisi, pada akhirnya Airlangga kewalahan tak bisa mengurus Golkar, tak bisa mengurus ekonomi negara," pungkas Freddy. (*/adk/jpnn)

Freddy mengatakan, selama dua tahun ini muruah Golkar sebagai partai kekaryaan tidak terlihat lagi.


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News