Anies dan Panitia Formula E Mau Menodong atau Meminta Sponsorship BUMN?

Anies dan Panitia Formula E Mau Menodong atau Meminta Sponsorship BUMN?
Anggota Komisi VI DPR Deddy Yevri Hanteru Sitorus. Foto: Instagram/deddyyevrisitorus

Deddy mempertanyakan apakah panitia Formula E memang menarget BUMN sejak awal dan diajak berbicara mengenai konsep bisnis sponsorship-nya.

“Misalkan saja jika yang dimaksud itu adalah BUMN perbankan, apakah sejak awal mereka ditawarkan sebagai marketing tiket atau placement logo mereka di semua merchandise atau arena balap Formula E itu?” kata Deddy.

Pria kelahiran Pematangsiantar itu mencontohkan Pertamina bisa saja menjadi sponsorship dengan catatan tertentu dengan memakai produk yang dihasilkan Pertamina Lubricant.

"Jika tidak, tentu akan berat bagi BUMN untuk berpartisipasi sebagai sponsor karena hitungannya jelas bisnis sense dan ada aturannya,” kata Deddy.

Menurut anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Kalimantan Utara ini, tidak tepat dalam waktu satu bulan, apalagi dua hari sebelum penyelenggaraan, panitia baru mengeluh soal sponsorship.

Deddy membandingkan dengan kepanitiaan balap MotoGP Mandalika. Di mana sebelumnya BUMN sejak awal terlibat. Bahkan BUMN yang memimpin dalam desain bisnis dari kegiatan tersebut.

“Sejak awal hajatan Formula E itu murni keinginan gubernur DKI yang dirancang menggunakan APBD. Kalau setiap gubernur dan kepala daerah di Indonesia bikin event lalu menjelang kegiatan dilaksanakan minta BUMN jadi sponsor, itu namanya nodong,” kata dia.

Menurutnya, tidak etis juga mendesak BUMN yang baru keluar dari beratnya masa pandemi untuk menjadi sponsor dari ego setiap kepala daerah. Sebab harus dipahami, BUMN adalah badan usaha, sehingga sponsorship itu juga ada unsur murni perhitungan bisnis.

Jangan sampai semua kepala daerah mendekati hari-H pelaksanaan kegiatan baru meminta kerja sama sponsorship kepada BUMN.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News