JPNN.com

Anis Matta & Fahri Hamzah Bikin Partai Gelora, Ini Manifesto Politiknya

Senin, 11 November 2019 – 11:24 WIB Anis Matta & Fahri Hamzah Bikin Partai Gelora, Ini Manifesto Politiknya - JPNN.com
Ketua Umum Gelora Anis Matta (jaket putih memegang papan surfing) bersama sejumlah pengurus parpolnya. Foto: Twitter/partaigeloraid

jpnn.com, JAKARTA - Sejumlah mantan elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendeklarasikan Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia. Di antara mantan elite PKS yang ikut mendirikan Gelora adalah Anis Matta, Fahri Hamzah dan Mahfuz Sidik.

Anis yang pernah menjadi presiden PKS, kini menjadi ketua umum Gelora. Adapun Fahri yang sebelumnya wakil sekretaris jenderal PKS, kini menjadi wakil ketua umum Gelora.

Untuk posisi sekretaris jenderal Partai Gelora dipercayakan kepada Mahfuz Sidik. Sebelumnya, Mahfuz pernah menjadi wakil sekjen di PKS.

Sebagai parpol, Gelora juga memiliki manifesto politik. Gelora dalam manifesto politiknya menegaskan pentingnya gelombang kebangkitan rakyat Indonesia yang kuat dan masif.(jpnn)

Berikut ini adalah kutipan lengkap dari manifesto politik Partai Gelora Indonesia.

Manifesto Politik
Partai Gelombang Rakyat Indonesia
(Gelora Indonesia)

Jauh di dasar sanubari kita sebagai bangsa besar ada ketakutan yang akut bahwa sekarang, setelah dua dekade menikmati demokrasi, kita sedang berjalan tanpa peta jalan yang jelas. Ketidakterarahan ini membuat grafik sejarah kita terus mendatar dan tidak lagi mendaki pencapaian yang tinggi. Padahal seluruh potensi besar kita sebagai bangsa seharusnya meledak saat kita beralih ke sistem demokrasi. Langit kita terlalu tinggi tapi kita terbang terlalu rendah. Ketakutan yang akut itu menandai adanya krisis yang kompleks, baik dalam narasi maupun kepemimpinan.

Sementara itu dalam percaturan global kita menyaksikan dunia yang semakin kacau dan setiap saat dapat berkembang menjadi perang dunia yang lebih mengerikan dari dua perang dunia sebelumnya. Perubahan pada perimbangan kekuatan global dalam bidang ekonomi, teknologi dan militer telah memicu perang supremasi baru antara kekuatan global; Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia dan Eropa. Perang ini pasti akan berlangsung lama, tanpa kaedah yang jelas, dan tentu akan merambah semua sektor kehidupan kita; dari perang dagang, perang tehnologi, perlombaan senjata, perang geopolitik hingga perang ideologi. Sistem global mulai tidak berfungsi, dan seluruh institusinya seperti lumpuh dan tidak berdaya menghadapi krisis global ini. Perang selalu hadir saat sejarah menemui jalan buntu.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...