Apakah Jokowi dan Prabowo Sadar? Cuma Mereka yang Bisa Redam Emosi Publik

Apakah Jokowi dan Prabowo Sadar? Cuma Mereka yang Bisa Redam Emosi Publik
Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, BANDUNG - Masyarakat Indonesia masih terbagi dua meski pemungutan suara Pilpres 2019 selesai 17 April lalu. Hasil perlombaan belum ketahuan. Siapa yang menang? Jokowi atau Prabowo? Masih harus menunggu keputusan KPU satu bulan lagi.

Aroma persaingan semakin tajam setelah keduanya sama-sama mengklaim kemenangan. "Kedua paslon seharusnya sadar bahwa merekalah yang mampu meredam kondisi masyarakat saat ini," kata dosen departemen psikologi klinis, yang juga asosiat di pusat psikologi Unpad, Ahmad Gimmy Prathama, kepada kantor berita RMOLJabar, Sabtu (20/4).

(Baca Juga: Kisah Anggota KPPS Meninggal Dunia, Mirip yang Ditonton Istri di TV)

"Tadi kan ada identifikasi pada pilihannya, nah pilihannya ini Jokowi dan Prabowo harus sadar merekalah yang bisa meredam hal ini. Kalau pucuk pimpinannya bisa adem mudah-mudahan ke bawahnya bisa adem juga," kata Gimmy sapaan akrabnya.

Dengan kondisi masyarakat saat ini yang masih mengidentifikasikan diri dengan pilihannya, tingkat emosional publik masih butuh peredam. "Para pemilih mengindentifikasi diri dengan pilihannya masing-masing, sehingga ketika muncul pernyataan ada kecurangan, rasanya diri sendiri yang dicurangi. Yang muncul kemudian emosi yang tidak lagi rasional, sangat emosional," ujarnya.

Gimmy menambahkan, selain Jokowi dan Prabowo, KPU sebagai wasit harus bisa perlihatkan kerja keras mereka. "Semua bisa lihat penyelenggara pemilu dari atas ke bawah, kemudian Polri dan TNI sudah bekerja demikian berat dan keras. Seharusnya itu untuk kemajuan Indonesia bukan untuk salah satu calon," tandasnya. (yud)


Kerja keras penyelenggara pemilu kemudian Polri dan TNI selama pencoblosan bukan untuk Jokowi atau Prabowo, tetapi untuk Indonesia.


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News