Ary Zulfikar Ungkap Potensi dan Tantangan UMKM di 2024, Tembus Pasar Ekspor!

Ary Zulfikar Ungkap Potensi dan Tantangan UMKM di 2024, Tembus Pasar Ekspor!
Para pembicara dalam seminar bisnis awal tahun besutan PBA bersama RamTV secara daring baru-baru ini. Foto tangkapan layar zoom

Dalam konteks permodalan UMKM, dia menilai informasi mengenai sumber pendanaan usaha sangat minim di kalangan pelaku UMKM.

Selain itu, syarat kredit bank, yang dinilai memiliki mekanisme credit scoring kurang mengakomodasi business cycle dari UMKM, juga menjadi kendala.

Azoo menuturkan literasi keuangan yang minim di kalangan pelaku UMKM turut memengaruhi penilaian lembaga keuangan terhadap kelayakan kredit, seperti kurangnya perhatian pada laporan keuangan dan pencampuran keuangan pribadi dengan usaha.

“Mekanisme penilaian kredit biasanya pasti akan melihat laporan keuangan. Persoalannya adalah banyak dari pelaku UMKM, terutama yang beroperasi di sektor mikro, kurang memahami bagaimana mengelola keuangan dengan baik, sehingga tidak ada data atau riwayat transaksi yang memadai," tuturnya.

Inilah yang perlu dipelajari oleh pelaku UMKM, yaitu bagaimana mengelola penerimaan dengan baik dan memisahkan keuangan usaha dari pribadi, sambung Azoo.

Survei Bank Indonesia mengindikasikan bahwa masalah akses ke permodalan masih signifikan, di mana 69,5 persen UMKM belum mendapatkan kredit dari bank atau lembaga keuangan lainnya.

Menurut Azoo, hal itu menyebabkan kesenjangan UMKM di Indonesia yang mencapai Rp 1.605 triliun.

Tantangan UMKM selanjutnya adalah terkait pemasaran produk. Azoo menyadari bahwa UMKM membutuhkan merek yang kuat melalui pemasaran. Namun, biaya promosi yang tinggi menjadi kendala utama.

Ketum PBA Ary Zulfikar mengungkapkan potensi dan tantangan UMKM di 2024, yang diyakini bisa menembus pasar ekspor.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News