Selasa, 26 Maret 2019 – 09:53 WIB

Bagaimana Masa Depan Industri Penerbangan Dunia Tanpa A380?

Jumat, 01 Maret 2019 – 14:00 WIB
Bagaimana Masa Depan Industri Penerbangan Dunia Tanpa A380? - JPNN.COM

Ketika Airbus A380 melakukan penerbangan perdananya di tahun 2005, perusahaan asal Eropa tersebut menjanjikan ruang yang lebih lega di pesawat, mesin yang lebih tenang, dan pesawat bertingkat dua, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

A380 berhenti diproduksi:

  • Pengamat mengatakan Airbus telah salah dengan mengandalkan pesawat besar
  • Badan pesawat koposit dan mesin hibrid kini sedang dikembangkan demi efisiensi
  • Prospek pesawat komersial listrik atau hibrid masih lama

Kehadiran A380 saat itu bahkan dianggap 'membunuh' keberadaan pesawat Boeing 747.

Tapi 20 tahun setelah itu, pasar industri penerbangan memutuskan jenis A380 sebagai sebuah 'fizzer' atau kegagalan, yang membuat Airbus mengumumkan akan menghentikan produksinya di tahun 2021 atau dua tahun dari sekarang.

"[A380] sudah berusia 15 tahun, dimana saat Boeing mengatakan rute penerbangan akan lebih menghubungkan "titik ke titik", tapi Airbus mengatakan akan tetap tergantung pada bandara utama," kata Profesor Brian Falzon, yang mengepalai sekola teknik mesin dan kedirgantaraan di Queen's University Belfast.

"Dengan lalu lintas udara yang meningkat dua kali lipat setiap 15 tahun, Airbus berpikir hub akan menjadi model ... tapi dalam jangka panjang terbukti salah," katanya.

Dalam sebuah pernyataan pers, kepala eksekutif Airbus Tom Enders mengatakan tidak ada pesanan A380 yang substansial untuk mempertahankan produksi yang sedang berlangsung.

"Penumpang di seluruh dunia senang terbang dengan pesawat luar biasa ini, karenanya pengumuman ini menyakitkan kami dan komunitas A380 di seluruh dunia."

Pabrik pesawat terbang utamakan efisiensi

Laporan lebih lanjut mencatat bahwa pembeli utama A380, yakni perusahaan maskapai Emirates, secara signifikan mengurangi pesanannya setelah Airbus tidak bisa mendapatkan mesin jet yang lebih efisien dari Rolls Royce.

Airbus terkejut karena Emirates lebih memilih Boeing 787 Dreamliner, pesawat yang lebih kecil tapi mampu melakukan perjalanan lebih jauh dengan bahan bakar yang lebih efisien.

"Apa yang terjadi sejak A380 adalah munculnya pesawat-pesawat yang sangat efisien, sehingga Airbus tidak dapat lagi bersaing," kata Professor Falzon.

Untuk industri mobil, konsumen bisa memilih mulai dari mobil hybrid, listrik, atau yang bertenaga hidrogen. Tapi prospek pesawat terbang komersil listrik dan hibrid masih jauh.

"Jika Anda melihat apa yang terjadi sejak tahun 1950 hingga sekarang, meski bisa dikatakan secara konseptual mesinnya terlihat sama, telah ada kemajuan luar biasa dalam teknologi jet," kata Profesor Falzon.

Ia juga menambahkan pabrikan mesin, seperti Rolls Royce atau Pratt and Whitney sedang membuat generasi terbaru dari pesawat pembangkit listrik, yang kemungkinan akan memperkenalkan jenis mesin "hibridisasi" dalam waktu dekat.

Masa depan penerbangan semuanya tergantung pada beratnya

Pada tahun 2040, Norwegia ingin semua penerbangan jarak pendek menjadi sepenuhnya listrik.

Pengumuman ini dibuat setelah penerbangan bertenaga listrik pertama negara itu pada tahun 2018.

Masa depan pesawat adalah soal berat

Pada tahun 2040, negara Norwegia ingin memiliki pesawat jarak jauh yang sepenuhnya elektrik dan ini diumumkan setelah negara tersebut memiliki pesawat terbang bertenaga listrik di tahun 2018.

Sebelum terbang, dua penumpangnya, termasuk Menteri Transportasi Norwegia Ketil Solvik-Olsen harus mengikuti diet ketat agar bisa menjaga pesawat tetap di udara meski jaraknya pendek.

"Banyak sistem [pesawat] yang sebelumnya didukung oleh mesin sekarang menggunakan baterai, jadi langkah selanjutnya adalah menggunakan baterai sebagai bagian dari sistem propulsi," kata Profesor Falzon.

Dibandingkan dengan mobil, menjaga berat pesawat adalah perhatian utama saat menggunakan tenaga baterai, karena pesawat tak akan menjadi lebih ringan saat mendarat, juga baterai tidak mendorong pesawat dengan kekuatan yang sama dengan bahan bakar jet.

Moein Khaloei, peneliti di Laboratorium Transportasi Berkelanjutan Universitas Washington, menyatakan bahwa "1 kilogram bahan bakar jet mengandung energi 70 kali lebih banyak daripada baterai lithium-ion terbaik yang ada", dalam blognya.

Dengan teknologi baterai saat ini, artinya jangkauan dan muatan pesawat listrik atau hibrida sangat terhambat.

Apakah era 'burung besar' berakhir?

Saat program A380 dijadwalkan berakhir dalam waktu beberapa tahun, perkembangan saat ini mengarah ke pesawat yang lebih gesit dan dapat menempuh jarak yang lebih jauh.

Qantas milik Australia menantang pabrik pesawat untuk membuat pesawat terbang yang dapat terbang dari Australia ke kota-kota seperti London dan New York tanpa henti, pada tahun 2017 lalu.

Di tahun 2018, maskapai penerbangan Australia juga mengumumkan akan menghentikan penerbangan pesawat 747 di tahun 2020 dan menggantinya dengan Boeing 787-9, yang kini melayani penerbangan Perth ke London tanpa henti dari Qantas.

Saat ini, hanya segelintir maskapai penerbangan yang menggunakan pesawat 747 jumbo sebagai bagian dari armada reguler mereka.

"Hal yang baik dari industri penerbangan adalah sebenarnya bisnis ini kompatibel dan konsisten dengan isu lingkungan," kata Profesor Falzon.

Tantangan saat melakukan penelitian dan pengembangan A380 adalah pembengkakan biaya, sehingga tertunda dengan nilai mencapai AU$ 35 miliar, atau lebih dari Rp 350 triliun, sementara Boeing mengatakan bisnisnya akan mencapai 'break even point' dari proyek Dreamliner di tahun 2021 karena pengiriman 1.100 unit yang tertunda.

"Yang penting untuk diingat adalah menciptakan pesawat baru sangatlah mahal, dan sertifikasi pesawat baru juga sangat mahal, terutama untuk bahan dan sistem baru," kata Profesor Falzon.

Qantas, Air New Zealand dan Emirates dihubungi tetapi menolak berkomentar.

Ikuti berita-berita lainnya dari ABC Indonesia.

 
SHARES
Komentar