JPNN.com

Bandung jadi Kota Kumuh Terbesar, Ini Salah Satu Faktornya

Sabtu, 09 November 2019 – 20:39 WIB
Bandung jadi Kota Kumuh Terbesar, Ini Salah Satu Faktornya - JPNN.com
Urbanisasi dinilai menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan Kota Bandung menyandang kota kumuh terbesar. Foto: Jabar Ekspres

jpnn.com, BANDUNG - Kota Bandung, Jawa Barat, masih menyisakan kawasan kumuh seluas 717 hektare (ha) yang tersebar di sejumlah titik. Masalah urbanisasi dinilai menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan ibu kota dari Jawa Barat ini menyandang kota kumuh terbesar.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana membenarkan masih adanya kawasan kumuh di Kota Bandung. Salah satu penyebabnya, sebut dia, geliat ekonomi yang menjadikan Kota Bandung sebagai tujuan urbanisasi.

“Masalah urbanisasi ini menjadi faktor yang mengakibatkan Bandung menjadi kumuh. Karena kita ketahui, laju pertumbuhan ekonomi Bandung tinggi, sekitar 7,2 persen, dibanding provinsi saja 5,35 persen dan nasional hanya 5,02 persen,” kata Yana di Balaikota, kemarin.

Namun, lanjut dia, tingginya angka urbanisasi ke Kota Bandung memberi dampak buruk terhadap kondisi lingkungan. Misalnya saja semakin padatnya kawasan permukiman di masyarakat. “Tapi dengan banyaknya kaum urban, banyak menambah permukiman yang enggak layak,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan (DPKP3) Kota Bandung Agus Hidayat menjelaskan, ada beberapa indikator yang menjadikan sebuah kawasan dinyatakan kumuh. Indikator tersebut di antaranya drainase, sanitasi, jalan lingkungan, dan penyediaan air minum.

Berdasarkan data yang ada, kata dia, pada 2015 luasan kawasan kumuh lebih dari 1.000 hektare. Namun jumlah itu menurun dan kini tinggal tersisa 717 hektare kawasan kumuh.

“Sampai saat ini 717 hektare kawasan kumuh. Sisanya akan digempur dibereskan melalui proyek Kotaku (Kota Tanpa Kumuh),” katanya.

Pemerintah Kota Bandung menargetkan bisa terbebas dari kawasan kumuh di akhir 2019. Terlebih lagi penataan kawasan kumuh di dukung oleh Kementrian PUPR melalui program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...