Banjir Besar di Kalsel, Walhi Singgung Degradasi Ekologis

Banjir Besar di Kalsel, Walhi Singgung Degradasi Ekologis
Pengendara menerobos banjir di Jalan Cemara, kemarin (14/1) sore. Banyak motor yang kemogokan. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

jpnn.com, BANJARMASIN - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan merespons keras terkait bencana banjir yang menerjang Kalsel saat ini.

Menurut Walhi, banjir di Kalsrl tak lepas akibat degradasi lingkungan.

“Selain karena cuaca ekstrem, banjir tak lepas akibat degradasi lingkungan,” kata Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono.

Dari laporan Walhi, Kalsel terdapat 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara.

Sebagian lubang berstatus aktif, dan sebagian lagi telah ditinggalkan tanpa reklamasi.

“Dari 3,7 juta hektare total luas lahan di Kalsel, nyaris 50 persen di antaranya sudah dikuasai oleh perizinan tambang dan kelapa sawit,” tambah Kisworo.

Menurutnya, rusaknya ekosistem alam di daerah hulu yang berfungsi sebagai area tangkapan air atau catchment area menyebabkan kelebihan air di daerah hilir yang berujung pada banjir.

"Dan ini sudah sering saya sampaikan bahwa Kalsel ini darurat ruang dan darurat bencana ekologis,” tegasnya.

Walhi Kalimantan Selatan merespons keras terkait bencana banjir yang menerjang Kalsel saat ini.