Bawa 100 Batang Detonator, Pria di NTT Ini Terancam Hukuman Mati

Bawa 100 Batang Detonator, Pria di NTT Ini Terancam Hukuman Mati
Aparat Ditpolairud Polda NTT menunjukkan detonator yang ditemukan dari tersangka N. ANTARA/HO-Humas Polda NTT

jpnn.com, KUPANG - Seorang pria berinisial N yang telah ditangkap Direktorat Polisi Perairan dan Udara Polda Nusa Tenggara Timur akibat membawa 100 batang detonator atau bahan peledak, terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup. 

Tersangka N ditangkap Ditpolairud Polda NTT karena membawa bahan peledak, pada 3 Oktober 2021 lalu di sekitar Jalan El Tari, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT, diduga melanggar Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.  

“Tersangka diduga melanggar Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang senjata api dan bahan peledak dengan ancaman hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup," kata Kabid Humas Polda NTT Kombes Rishian Krisna B kepada wartawan di Kupang, Jumat (21/10).

Mantan Kapolres Timor Tengah Utara itu mengatakan dari hasil pemeriksaan sementara diketahui tersangka N mengaku melakukan tindakan tersebut karena ingin mendapatkan keuntungan pribadi, yakni dengan cara menjual kepada para nelayan yang melakukan penangkapan ikan menggunakan bom ikan.

Bahan peledak itu setelah ditelusuri diketahui merupakan buatan India dengan level 8 high explosive. 

Artinya, ledakannya dapat merusak seluruh kawasan perairan, termasuk tempat hidup dari ikan dan hewan laut lainnya.

Adapun harga jual per satu batang detonator itu mencapai Rp 200 ribu, dan untuk 100 batang seharga Rp 20 juta. 

Rishian mengatakan penangkapan tersangka N dilakukan setelah aparat kepolisian mendapatkan laporan dari warga sekitar soal adanya jual beli detonator tersebut di pasaran.

Seorang pria berinisial N yang ditangkap Ditpolairud Polda NTT akibat membawa 100 batang detonator atau bahan peledak terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup.