Bayar Rp1,9 Juta, Warga Perbatasan Miliki 'KTP' Malaysia

Bayar Rp1,9 Juta, Warga Perbatasan Miliki 'KTP' Malaysia
Talakan, warga Labang di Perbatasan Indonesia-Malaysia perlihatkan IC miliknya yang telah terbit sejak tahun 2002. Foto: Suwondo/Radar Tarakan/JPNN

Meski begitu ia mengaku pernah juga menginjakan kaki ke Bantul-Keningau. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Labang atau Sumantipal kurang lebih 2 jam perjalanan dari Labang menuju Bantul-Malaysia via long boat.

Lanjut Tambilangan, anak cucu atau keluarga yang ada di Malaysia biasanya datang ke Labang-Indonesia atas undangan hajatan dan lainnya. Mereka biasanya turun dalam jumlah rombongan, membawa sembako, makanan ringan dan sejumlah uang untuk keperluan hajatan atau sekadar membantu meringankan ekonomi keluarga di Indonesia.

“Kalau ada pesta kawin kami turun ke ibukota Kecamatan Lumbis di Desa Masalong. Lalu menelpon keluarga di Malaysia dengan informasi agak segera turun karena ada acara,” begitu kisahnya.

Begitu sejahteranya warga Lumbis Ogong yang telah berpuluh tahun menjadi warga Malaysia sepadan dengan usah dan perjuangan mereka agar bisa sejahtera. Yang jelas, untuk sejahtera di negeri sudah sangat sulit.

“Coba di desa kami listrik lancar, perkebunan dibuka dan progam pemerintah lainnya benar-benar terwujud. Tidak ada lagi yang berniat pindah ke Malaysia. Cukup di negeri sendiri dengan penghasilan lumayan serta mudah mendapatkan berbagai layanan. Di Malaysia ada perkebunan, ada bantuan sosial dan program lainnya. Di Indonesia apa? Karena itu warga di sini (Sumantipal) lebih memilih bekerja di Malaysia ketimbang di Indonesia," urainya.

Di Sumantipal, program pendidikan dan kesehatan memang memprihatinkan. Tenaga guru sering tidak betah mengajar, demikian pula tenaga kesehatan yang sering tidak berada di tempatnya. Akhirnya, jika ada yang sakit, warga mendatangi Pos Satgas Pamtas untuk mendapatkan obat oleh tenaga medis. Sementara, jika ada ibu mau melahirkan, jika tidak ada bidan yang terpaksa melahirkan dengan bantuan bidan kampung.

“Bidan tidak ada, di puskesmas pembantu juga tidak ada tenaga medis yang bisa diandalkan. Karena itu, sebagian warga datang ke Pos Pamtas Labang untuk mendapatkan obat-obatan saat sakit. Kalau melahirkan, panggil bidan kampung,” tandasnya.(ica/*/doo)

 

LUMBIS - Isu warga Kecamatan Lumbis khususnya yang berdomisili di desa perbatasan telah memiliki Identity Card (IC) Malaysia, ternyata benar adanya.


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News