Rabu, 21 Agustus 2019 – 12:24 WIB

Beralas Kaki, Penjaga Pintu Air Itu Terima Kalpataru

Selasa, 07 Juni 2011 – 23:52 WIB
Beralas Kaki, Penjaga Pintu Air Itu Terima Kalpataru - JPNN.COM

Soleman Ngongo. Foto: Afni Zulkifli/JPNN.

Usianya tak lagi muda, sudah lebih dari setengah abad. Namun suaranya masih tegas dan terus menebarkan senyum ramah. Dengan menggunakan baju tradisional Nusa Tenggara Timur, Soleman Ngongo tampil begitu sederhana. Bahkan tanpa alas kaki, menjadi tamu di Istana Negara.

Laporan AFNI ZULKIFLI, Jakarta

HARI ini, Selasa (7/6), Soleman hadir berbaur dengan ratusan penerima penghargaan bidang lingkungan dari seluruh nusantara. Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup se Dunia tahun 2011. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Soleman duduk sejajar dengan para Bupati, Walikota, Gubernur dan Menteri. Bahkan kehadirannya disana, atas undangan khusus untuk bertemu dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

"Saya tadi pakai sendal, tapi ditinggalkan di luar. Takut kotor. Lagipula tidak apa-apa saya begini, sudah biasa," kata Soleman saat diajak bicara JPNN.'

Soleman tidak pernah membayangkan, bakal bisa menginjak Istana Negara dan bertemu langsung dengan orang nomor satu di negeri ini. Sebuah penghargaan Kalpataru bidang pengabdi lingkungan yang berbentuk piala, terlihat dipegangnya erat-erat. Itulah alasan laki-laki menuju renta itu hadir di Istana. Soleman mendapatkan pengakuan dari negara, atas pengabdiannya.

Warga asli dari Desa Tema Tana, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur ini telah mengabdikan diri selama 40 tahun sebagai penjaga pintu air di daerahnya. Terdiri dari 240 pintu air primer, 140 sekunder dan 160 pintu air tersier.

"Dulu saya mulai bekerja sejak zaman Pak Harto tahun 1980-an. Awalnya tanpa dibayar, lalu setelah beberapa bulan, baru dibayar Rp500 per bulan," kata Soleman mengenang masa-masa awal profesi yang ditekuninya.

Menjadi penjaga pintu air, kata Soleman membutuhkan perjuangan sendiri. Karena saat itu, jarang bahkan nyaris tidak ada yang mau bekerja sebagai penjaga pintu air. Karena itu pula, Soleman harus rela menjaga puluhan bahkan ratusan pintu air sendirian. Kadang antara satu pintu air ke pintu air berikutnya, dilakukan dengan berjalan kaki menembus beberapa hutan dan kampung.

Sesekali saat hari sudah hujan, waktu istirahat pun harus dikorbankan Soleman untuk berjaga-jaga di tiap pintu air yang rawan. Meski berpenghasilan jauh di bawah kebutuhan, namun Soleman ikhlas melakoni pekerjaan. Alasannya, Soleman khawatir bila sawah, rumah dan kebun penduduk sekitar bisa terancam bahaya bila pintu air tidak dijaga.

Tidak cukup hanya menjaga pintu air saja, pada kawasan sumber-sumber mata air, bersama dengan kelompok tani di daerahnya, Soleman pun menggagas menanam 2 juta pohon yang berhasil memperbaiki  ekonomi produksi sawah seluas  2.347 ha.

Kini semua pengabdian Soleman hampir 40 tahun telah berbuah manis. Berbagai penghargaan bidang lingkungan pernah disabetnya, bahkan kini Kalpataru sebagai penghargaan tertinggi bagi penggiat lingkungan tingkat nasional telah pula dibawanya pulang langsung dari tangan Presiden SBY. Namun Soleman belum berpuas hati.

"Saya tidak pernah bekerja dengan tujuan untuk bertemu Presiden. Kalaupun dapat bertemu hari ini, saya syukuri sebagai anugerah dari Tuhan. Tapi masih banyak lagi yang harus dilakukan, mudah-mudahan bisa dilanjutkan juga oleh masyarakat dan penerus saya nanti," kata Soleman.

Hari itu Soleman menjadi salah satu dari 11 penerima Kalpataru. Selain itu juga diserahkan penghargaan Adipura untuk 63 Kabupaten/Kota se Indonesia, Adiwiyata Mandiri untuk 21 Sekolah se Indonesia dan Penyusun Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) 2010 terbaik untuk 6 Daerah. (afz/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar