Beras Bansos

Oleh: Dahlan Iskan

Beras Bansos
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Saya perhatikan tamu saya yang lagi makan: hanya sedikit mengambil nasi. Begitu juga keesokan harinya.

"Kenapa?"

"Nasi di sini kurang enak," jawabnya. "Maafkan," tambahnya buru-buru.

Baca Juga:

"Iya. Benar," sahut teman wanitanya.

Baru sadar: sudah 15 tahun terakhir saya pun harus memuji nasi di semua resto di Tiongkok. Punel. Wangi.

Yang seperti itu dulu hanya saya temui di Jepang. Lalu di Korea. Kini Tiongkok ikut selera nasi Jepang.

Baca Juga:

Saya juga ingat: sekitar 20 tahun lalu. Hanya satu wilayah di Tiongkok yang punya "nasi Jepang". Yakni provinsi Heilongjiang. Dongbei. Pojok timur laut Tiongkok. Dekat Rusia-timur. Juga dekat bagian utara Korea Utara.

Saya masih ingat tiap kali ke Harbin –ibu kota Heilongjiang– pulangnya selalu diberi oleh-oleh beras Harbin: 5 kg.

Setiap presiden takut inflasi. Begitu muncul ramalan bahwa stok beras menipis keputusannya cepat: impor beras! Kalau tidak, akan inflasi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News