JPNN.com

Berharap Sektor Pariwisata NTB Segera Bangkit

Sabtu, 03 November 2018 – 08:49 WIB Berharap Sektor Pariwisata NTB Segera Bangkit - JPNN.com

jpnn.com, MATARAM - Dampak gempa dipastikan menggerus ekonomi NTB (Nusa Tenggara Barat). Dibanding pertumbuhan ekonomi tahun 2017 lalu, pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan akan minus besar hingga tiga persen.

Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan NTB Achris Sarwani mengemukakan bagaimana ekonomi NTB merosot setelah gempa besar yang beruntun Agustus lalu.

“Total nilai kerusakan dan kerugian saja mencapai Rp 18 triliun. Ini sangat besar," katanya.

Kondisi itu kemudian diperparah dengan keadaan ekonomi global yang hingga saat ini belum stabil.

Belum lagi memperhitungkan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang imbasnya juga dirasakan negara lain. Banyak yang menarik dolarnya dari seluruh negara di dunia.

"Kita juga terpengaruh. Sehingga permintaan ekspor kita tidak sebanyak dulu," katanya.

Memang NTB masih punya harapan pada sektor pertanian dan perkebunan. Tapi permintaan ekspor tidak sebesar dulu. Sehingga tidak bisa lagi jadi tumpuan dan diandalkan.

Memang konsumsi dan daya beli masyarskat masih baik. Namun, sektor tambang dan perdagangan saat ini sudah dipastikan turun. Total pertumbuhan ekonomi dalam setahun akan lebih rendah dari tahun 2017. Tahun lalu pertumbuhan masih plus 0,11 persen.

"Sekarang dengan tambang kita akan minus dua setengah sampai tiga persen," kata Achris.

Bila tambang dikeluarkan, tahun lalu pertumbuhan mencapai 7,11 persen. Tahun ini diperkirakan pertumbuhan di luar tambang diperkirakan ada pada angka 4,9 persen sampai 5,3 persen. "Akan turun juga, karena kondisinya ada gempa," ujarnya.

Dia memastikan tambang pun tidak bisa lagi diharapan. Sebab, PT AMNT sendiri tidak akan mampu memenuhi target ekspor konsentrat yang diberikan pemerintah. Padahal target ekspornya sudah diturunkan dari 700 ribu ton menjadi 415 ribu ton setahun. "Kuota turun karena tidak bisa dipenuhi," katanya.

Satu-satunya harapan adalah sektor pariwisata. Meski pertumbuhan ekonomi global melemah, tapi belanja pariwisata dipastikan akan terus meningkat.

"Sektor pariwisata merupakan primadona dan harapan untuk ekonomi bisa bangkit lagi," kata Achris.

BI sendiri kemarin menggelar Desiminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional NTB. Pertemuan itu membahas berbagai langkah strategis untuk membangkitkan ekonomi NTB pascagempa. Pertemuan itu melibatkan para pelaku usaha, akademisi, PT Angkasa Pura, PT ITDC, dan pemerintah daerah.

Dari pertemuan itu, akan lahir ide dan gagasan untuk membangkitkan ekonomi, khususnya sektor pariwisata. Desiminasi itu mengangkat tema "Pariwisata dan Momentum Kebangkitan Ekonomi NTB".

Tema itu diangkat sebab, sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk membangkitkan ekonomi NTB. "Sekarang kontribusinya mungkin masih kecil, tapi ke depan sangat potensial," katanya.

BI mendorong agar sektor pariwisata benar-benar dibangun dengan sungguh-sungguh. Sebab multi efeknya sangat besar.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengakui situasi ekonomi NTB saat ini tidak mudah. Tapi semua harus punya semangat untuk bangkit. Termasuk sektor pariwisata yang memiliki potensi besar ke depan.

"Momen yang dimulai dengan situasi yang sulit ini bisa memicu kita. Memulai dengan menghilangkan ego sektoral," kata Rohmi.

Membangkitkan pariwisata juga harus benar-benar memerhatikan banyak aspek. Tidak hanya proyek pembangunan sekala besar, tapi juga masalah detail seperti soal kebersihan. Manajemen pengelolaan sampah harus diperbaiki.

"Pelaku pariwisata harus memperhatikan masalah sampah," imbuhnya. Ia juga meminta pihak yang menangani ekonomi dan keuangan menyusun langkah strategis bagi perbaikan ekonomi NTB.

Di tengah situasi yang sulit ia mengajak seluruh pelaku usaha tetap optimis, mandiri dan percaya kepada kemampuan sendiri. Potensi yang ada di NTB harus digali agar bisa dijual dan memberi nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi. (ili/r8)

 

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...