Besarkan Anak Difabel di Australia, Orang Tua Asal Indonesia Saling Membantu Lewat Grup WhatsApp

Besarkan Anak Difabel di Australia, Orang Tua Asal Indonesia Saling Membantu Lewat Grup WhatsApp
Oliver pernah berpartisipasi mewakili Indonesia dengan menggunakan pakaian daerah Aceh di acara International Cultural Celebration Parade Pako Festa yang digelar di Geelong. (Foto: Koleksi pribadi)

"Di sini lebih accepting. Jadi orang enggak melihat Nathan seperti makhluk aneh," ujarnya.

"Di sekolah ia juga diperlakukan seperti anak-anak pada umumnya. Dalam artian, kalau misalnya ada topik [tertentu, misalnya] voting, ia akan ditanya dan Nathan senang banget membahas topik seperti ini."

Menurutnya, dukungan keuangan dan kesehatan yang ditanggung pemerintah Australia juga memudahkan Nathan untuk berkomunikasi.

Perangkat bernama 'EyeGaze' yang dipasang di kursi roda Nathan membantunya menyuarakan apa yang ia ingin sampaikan.

Lawan stigma dengan mengedukasi

Sama halnya dengan Kathy, Santi juga tidak terlepas dari stigma sebagai orangtua anak berkebutuhan khusus.

Dari pengalamannya, ia sudah belajar cara untuk menanggapi orang-orang yang memberikan tatapan tidak menyenangkan kepada anaknya.

"Tapi saya memutuskan untuk mengedukasi mereka. Saya ajak mereka berkenalan dan mulai menjelaskan bahwa Nathan memang berkebutuhan khusus, tapi sama seperti orang lain," ujarnya.

"Jadi daripada kita kesal ... saya pikir dengan cara begitu orang jadi mulai paham."

Sejumlah orang tua asal Indonesia mengaku jika membesarkan anak-anak mereka di Australia tidaklah mudah karena perbedaan budaya

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News