Bicara Kecurangan dan Kekerasan di Pemilu 2024, Guru Besar Ini Sebut Ada yang Agak Bahaya

Bicara Kecurangan dan Kekerasan di Pemilu 2024, Guru Besar Ini Sebut Ada yang Agak Bahaya
Diskusi hybrid bertajuk "Kecurangan dan Kekerasan dalam Pemilu 2024: Nasibnya Bagaimana?" yang digelar Koalisi Masyarakat Sipil kawal Pemilu Demokratis, di Sadjoe Cafe, Tebet, jakarta Selatan pada Jumat (5/1). Foto: supplied

jpnn.com, JAKARTA - Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Prof Mochamad Ali Syafa'at menilai demokrasi di Indonesia sedang mengalami dekadensi alias kemerosotan secara politik.

Hal itu disampaikannya dalam diskusi hybrid bertajuk "Kecurangan dan Kekerasan dalam Pemilu 2024: Nasibnya Bagaimana?" yang digelar Koalisi Masyarakat Sipil kawal Pemilu Demokratis, di Sadjoe Cafe, Tebet, jakarta Selatan pada Jumat (5/1).

"Secara empiris, kita menghadapi kultur demokrasi atau politik, yang bisa disebut dengan dekadensi politik; sesuatu yang secara hakikat dari Pemilu yang mengakui kebebasan dan tanggung jawab manusia, makin lama hal ini dikesampingkan, diarahkan pada materi dan kekuasaan," ujarnya.

Menurut dia, bila mengacu pada proses pemilu sejak reformasi, dekadensi itu makin terlihat kasat mata, semakin berani, dan kian melepaskan moralitas dari praktik politik.

Prof Ali menyebut kecurangan terjadi saat dekadensi politik diiringi oleh ambisi untuk memenangi. "Makin besar ambisi dan pengharapannya, takut kalah, potensi melakukan kecurangan juga akan besar," tuturnya.

Dia kemudian menyampa?ikan bahwa akses terhadap kekuasaan juga menjadi penunjang terjadinya kecurangan dalam pemilu.

"Makin besar akses, semakin potensi melakukan kecurangan. Kecurangan membutuhkan instrumen, hanya dapat dilakukan dengan instrumen pemerintahan," ucapnya.

Pada Pemilu 2024, potensi kecurangan itu makn besar lantaran ada kand?id?at yang masih menjadi pejabat publik dan berada di lingkara?n kekuasaan.

Guru Besar FH Universitas Brawijaya Prof Mochamad Ali Syafa'at bicara soal kecarangan dan kekerasan dalam Pemilu 2024. Sebut ada yang agak bahaya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News