Boy Rafli Minta Semua Pihak Berhati-hati dengan Ajaran Radikalisme Berkedok Agama

Boy Rafli Minta Semua Pihak Berhati-hati dengan Ajaran Radikalisme Berkedok Agama
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar dan Rektor IPDN Hadi Prabowo dalam kuliah umum bertajuk Deteksi Dini Modus Perkembangan Gerakan Radikalisme yang diselenggarakan Kampus IPDN Jatinangor, Jawa Barat, Senin (4/7). Foto: IPDN

jpnn.com, JATINANGOR - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar meminta praja IPDN untuk mengantisipasi ajaran radikalisme yang dibalut dengan agama. Dia menilai para terorisme lihat menggunakan cara itu untuk merekrut anggota.

Boy menegaskan praja IPDN harus berhati-hati kepada dakwah atau kajian yang berkedok agama, tetapi di dalamnya terdapat ajaran-ajaran radikalisme atau terorisme yang disisipi.

“Praja calon pimpinan masa datang harus benar-benar dapat membedakan mana yang dakwah agama, mana yang benar-benar menjadi rencana penuh dengan kekerasan," kata Boy saat memberikan kuliah umum bertajuk Deteksi Dini Modus Perkembangan Gerakan Radikalisme yang diselenggarakan Kampus IPDN Jatinangor, Jawa Barat, Senin (4/7).

Eks Kapolda Papua itu juga menyampaikan potensi ancaman terorisme di Indonesia menempati urutan ke-24 dari 162 negara menurut Global Terrorism Index (GTI) 2022.

Di sisi lain, United Nation menemukan fakta pada masa pandemi, radikalisasi di sosial media mengalami peningkatan. Termasuk di Indonesia, 202 juta orang menggunakan internet dan 80 persennya pemilik akun media sosial. Dari 80 persen pemilik akun medsos ini, 60 persen adalah kalangan muda.

"Itulah yang menjadi target kelompok jaringan terorisme global. Di mana teroris ini mengembuskan narasi-narasi kebencian kepada pemerintah,"tuturnya.

Menurut eks Kadiv Humas Polri itu, ketimpangan dalam pelayanan publik dan pemerintah menjadi pintu masuk untuk dibangunnya semangat permusuhan kepada negara.

“Jaringan terorisme ini memiliki tujuan politik untuk mendelegitimasi kekuatan supra politik di pemerintahan masing-masing dan berharap bisa eksis di negara tersebut," ujarnya.

Boy Rafli meminta praja IPDN berhati-hati dengan dakwah atau kajian yang berkedok agama, tetapi di dalamnya disisipi ajaran-ajaran radikalisme atau terorisme.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News