BPN Menduga Jokowi yang Menyeret Polri ke Kancah Politik

BPN Menduga Jokowi yang Menyeret Polri ke Kancah Politik
SALING HORMAT: Joko Widodo (kiri) bersama Prabowo Subianto (kanan) dan Ketua KPU Arief Budiman dalam Debat Capres di Shangri-La Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu (30/3). Foto: Ricardo/JPNN.Com

"Kami tidak menyalahkan polisi, kami justru menduga Jokowi sebagai pemimpin tertinggi bangsa ini yang menyeret-nyeret kepolisian ke kancah politik. Ini tidak baik. Merusak masa depan kepolisian kita yang sedang kita bangun professional, tetapi di zaman Jokowi ini dirusak dan ditarik-tarik ke tengah politik," pungkasnya.

Sebelumnya, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto menyindir adanya isu sejumlah aparat yang dikerahkan untuk mendukung salah paslon di pemilihan presiden 2019. Hal seperti ini dinilai akan menurunkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Secara pribadi, Mantan Danjen Kopassus itu percaya bahwa Jokowi punya komitmen menegakkan demokrasi. Akan tetapi, adanya desas-desus itu tentu tak bisa dipandang sebelah mata.

"Dengan sistem sebaik apa pun kalau will untuk menjalankan demokrasi tidak dijalankan dalam pemerintahan, saya khawatir distrust ini bertambah," kata Prabowo dalam debat keempat pilpres di Hotel Sharingla, Jakarta, Minggu (31/3).

Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo atau Jokowi dan Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadizly membantah tudingan Prabowo Subianto soal adanya pengerahan aparat untuk mendukung salah satu paslon di pilpres. Sebaliknya, TKN meyakini aparat tetap netral dalam pilpres 2019.

"Tidak betul ada mobilisasi aparat untuk mendukung salah satu paslon.  Presiden selalu menegaskan bahwa TNI, Polri dan ASN menjaga netralitas. Politik TNI dan Polri adalah politik negara," kata Ace ketika dikonfirmasi, Minggu (31/3). (jpc)


Ferdinand Hutahean menyayangkan Jokowi yang dia duga menjadi dalang menarik institusi Polri ke dalam politik di pilpres.


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News