Bukan Cuma Padat Karya, Indonesia Butuh Industri Padat Teknologi

Bukan Cuma Padat Karya, Indonesia Butuh Industri Padat Teknologi
Hanif Dhakiri. Foto: dok/PNN.com

"Jadi jika 200 kali lima kan jadinya kan seribu juga. Dengan begitu penyerapan lapangan kerja tetap dapat tapi dari segi kompetitifnya dari industri juga dapat sehingga bisa tetap bertahan dan maju dalam era MEA dan persaingan global,” tandas Hanif.

Hanif juga menyoroti mutu angkatan kerja Indonesia yang masih memprihatinkan. Postur angkatan kerja yang didominasi lulusan SMP ke bawah menjadi problema dalam membangun industri yang kompetitif.

“Tetapi kalau kita menunggu naikknya taraf pendidikan angkatan kerja, ya kita butuh waktu lama. Kita ini perlu bekerja sama antara pemerintah, dunia usaha, pekerja. untuk  mendorong kualitas SDM agar naik. Makanya saya selalu berbicara mengenai pentingnya peningkatan kompetensi,” kata Hanif.

“Jadi kita ini gak bisa lagi melulu mengandalkan pendidikan formal. Bukannya gak penting, kita memang harus mendorong kualitas, mutu pendidikan tapi jangan diambil sebagai satu-satunya cara untuk mengembangkan SDM. Hemat saya jalur-jalur pelatihan kerja itu menjadi penting,” kata Hanif.

Oleh karena itu, kata Hanif, Kementerian Ketenagakerjaan terus mengembangkan berbagai bentuk kebijakan mulai dari pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi profesi, penempatan tenaga kerja yang berkualitas dengan merevitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK).

“Pemerintah juga perlu bantuan kalangan pengusaha industri untuk memastikan agar SDM kita ini benar-benar bisa masuk ke pasar kerja dengan kualitas kompetensinya. Kita juga butuh bantuan teman-teman serikat pekerja untuk meningkatkan kualitas para pekerjanya,” kata Hanif.

“Saya itu sangat suportif terhadap perjuangan teman-teman buruh soal tuntutan kenaikan upah kesejahteraan, perlindungan dan lain-lain. Tetapi tolong bantu juga pemerintah untuk menjaga suasana hubungan industrial yang kondusif, menarik investasi, menyediakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kualitas pekerja yang berdaya saing tinggi,” tandas Hanif. (*)


JAKARTA - Dalam menghadapi persaingan global, Indonesia tak bisa hanya bergantung pada keberadaan industri padat karya yang selama ini selalu diandalkan


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News