JPNN.com

Bung Karno di Balik Penemuan Makam Imam Bukhari

Oleh: Dr. Ahmad Basarah

Senin, 16 September 2019 – 06:19 WIB Bung Karno di Balik Penemuan Makam Imam Bukhari - JPNN.com
Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah bersalaman dengan Imam Masjid Imam Bukhari, Ulama Makhsud Muhammad di Pusara Makam Imam Bukhari Kota Samarkhan, Uzbekistan, Sabtu (14/9). Foto: Humas MPR RI

jpnn.com - Nama Presiden Pertama Repubik Indonesia, Soekarno begitu sangat legendaris bagi masyarakat Uzbekistan, sebuah negara di Asia Tengah pecahan Uni Soviet yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Kepopuleran nama Presiden Soekarno berkaitan dengan kisah ditemukannya makam Imam Bukhari, seorang perawi nabi yang sangat termasyur di kalangan umat Islam.

Tidak banyak yang tahu, Soekarno-lah orang yang meminta pemerintah komunis Soviet agar menemukan makam tersebut. Berkat jasa Soekarno, saat ini kompleks makam Imam Bukhari yang terletak di desa Hartang, sekitar 25 kilometer dari Samarkand telah menjadi salah satu wisata umat Islam seluruh dunia.

Kebesaran nama Soekarno tidak hanya dikenal di seluruh penjuru Indonesia, namun menggema di seluruh dunia. Dia dikenal sebagai sosok pemimpin berani, tegas, kharismatik dan tidak mudah diatur oleh bangsa manapun. Tidak hanya bagi bangsa Indonesia, kisah kepahlawan Bung Karno juga dirasakan bagi umat Islam di dunia. Salah satunya di Uzbekistan.

Kisah tersebut bukan hanya cerita fiksi. Saat rombongan delegasi MPR RI menginjakkan kaki pertama kali di Bandar Udara Internasional Tashkent, Ibu kota Uzbekistan, nama Soekarno yang pertama kali disebut ketika delegasi memperkenalkan diri dari Indonesia. Salah satunya adalah Elyas, seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang langsung menyebut nama Soekarno ketika berjumpa dengan delegasi yang akan menyampaikan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI kepada masyarakat Indonesia yang ada di Uzbekistan.

Soekarno, kata Elyas sangat melekat bagi masyarakat Uzbekistan karena dipandang memiliki jasa besar dalam menemukan makam Imam Bukhari. Elyas dan pemuda Uzbekistan mengetahui nama dan jasa Soekarno dari orang tua dan membaca buku-buku yang diterbitkan di Uzbekistan.

Sejarah Soekarno dengan bangsa Uzbekistan dimulai ketika pasca-Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Pemerintah Soviet mengundang Presiden Soekarno untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Moskow.

Saat itu, Soekarno sadar, sebagai Presiden Indonesia yang dianggap sebagai pemimpin negara-negara Non Blok harus bersikap netral terhadap Blok Timur maupun Blok Barat. Tetapi di sisi lain, Soekarno juga menyadari bahwa Indonesia butuh dukungan Soviet untuk melegitimasi eksistensi negara-negara Non-Blok dan kesepakatan yang telah dicapai dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Soekarno juga menyadari membutuhkan dukungan Soviet untuk menghadapi berbagai upaya negara-negara Barat yang masih terus berusaha menjajah dan menguasai kembali Indonesia. Sementara itu, Soekarno mafhum bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah beragama Islam sehingga tidak mungkin Indonesia akan ikut blok timur yang dipimpin oleh negara komunis Soviet.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...