Bus Kurnia

Oleh: Dahlan Iskan

Bus Kurnia
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - YANG menaikkan harga BBM Sabtu lalu mungkin menyesal: mengapa tidak dulu-dulu. Enam bulan lalu, misalnya.

Atau lebih awal lagi. Toh risiko sosialnya ternyata kurang lebih sama: ribut.

Kenaikan harga BBM memang ibarat momentum untuk hidup baru. Normal baru. Begitu diputuskan, banyak perhitungan harus dilakukan.

Baca Juga:

Normal baru pun harus kita masuki ketika normal baru yang lama belum sepenuhnya normal.

Dan yang seperti itu sudah terjadi berkali-kali. Dahulu maupun kini. Hanya yang sekarang beda: Pandemi Covid-19 belum sepenuhnya berlalu. Anda masih rajin pakai masker.

Masker itulah yang mengingatkan Anda: "semenderita-menderita akibat kenaikan harga BBM masih lebih menderita terkena covid".

Baca Juga:

Asal Anda tidak membandingkan dengan ini: sudah terkena Covid terkena kenaikan harga BBM pula.

Akan tetapi mengalami penderitaan yang berat kadang positif juga: penderitaan apa pun setelah itu terasa lebih ringan.

Bus Siliwangi pun tidak disentuh preman. Kurnia menjaga perusahaan itu sebagai generasi kedua. Perubahan demi perubahan ia lakukan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News