Rabu, 14 November 2018 – 22:24 WIB

Butuh Kerja Keras Untuk Bisa Tinggal Lebih Lama di Australia

Rabu, 05 September 2018 – 14:00 WIB
Butuh Kerja Keras Untuk Bisa Tinggal Lebih Lama di Australia - JPNN.COM

Melinda Agustina, gadis asal Bekasi, Jawa Barat, pernah memiliki kehidupan yang sebenarnya nyaman di Jakarta dengan pekerjaan sebagai konsultan pajak. Tetapi di tahun 2016 ia memutuskan pergi ke Australia dan belum tahu apa yang ia lakukan.

Program Working Holiday Visa di Australia

  • Memberikan kesempatan bagi pemuda Indonesia usia 18-30 tahun untuk bisa berlibur sambil bekerja
  • Mendapat angka minimal 4,5 untuk IELTS
  • Memiliki surat keterangan dari bank memilki dana minimal AU$ 5000, yang boleh juga rekening atas nama orang tua
  • Jika ingin mendapat izin kerja selama dua tahun, perlu setidaknya 3 bulan untuk bekerja di kawasan pedalaman atau area pekerjaan tertentu
  • Dapatkan informasi lengkapnya hanya di situs resmi pemerintah Australia dan selalu berhati-hati dengan beberapa tawaran

Lewat program Working Holiday Visa (WHV) yang ditawarkan pemerintah Australia, Melinda ingin mewujudkan impiannya untuk bisa tinggal di luar negeri.

"Program WHV bukan hanya untuk liburan tapi kerja, ini membuat saya tertarik karena bisa mencari uang setelah mendengar cerita dari yang pernah ikutan," kata Melinda kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Tapi Melinda merasa perjuangan yang dialaminya lebih susah dari yang ia bayangkan.

Tujuan pertamanya di Australia adalah kota Darwin. Selama lebih dari sebulan ia kesulitan mendapatkan pekerjaan di ibukota Kawasan Australia Utara tersebut.

Tak mau uang bekalnya habis, Melinda kemudian mencoba peruntungan ke kota Sydney.

"Pekerjaan pertama saya adalah sebagai kitchen hand di Sydney dengan jam kerja malam, kemudian saya bekerja juga di sebuah toko takeaway fish and chips," ujar Melinda yang gemar jalan-jalan dan berpetualang.

Selama tinggal di Sydney, lulusan akuntansi dari Universitas Indonesia ini mengaku pernah tinggal di sebuah apartemen, dimana dalam satu kamar ia berbagi bersama lima orang lainnya dengan tempat tidur bertingkat.

"Di Sydney sepertinya sudah wajar dengan apartemen yang satu kamarnya diisi empat sampai lima orang," katanya.

"Jadi di satu unit apartemen dihuni oleh delapan sampai sembilan orang," katanya.

Terlepas dari kesulitannya, Melinda malah ingin memperpanjang program WHV-nya menjadi dua tahun.

Salah satu persyaratan untuk bisa mengikuti program WHV di tahun kedua adalah bekerja di kawasan Australia utara atau di perkebunan. Melinda pun memutuskan untuk pergi ke negara bagian Queensland.

"Saya bekerja di kawasan bernama Lakeland, benar-benar di pedalaman dengan fasilitas yang minim, tidak ada penduduknya, hanya ada pekerja perkebunan."

Melinda mengaku dirinya adalah satu-satunya pekerja yang menggunakan kerudung, tetapi ia tak pernah mendapat perilaku yang diskriminatif dengan identitasnya.

Setelah bekerja di perkebunan Queensland selama 4 bulan, Melinda sempat pulang ke Indonesia terlebih dahulu sebelum mendaftar kembali program WHV tahun kedua.

"Saya kembali ke Sydney dan sekarang kerja di pabrik kosmetik, di departemen filling, memasukan produk kosmetik ke dalam kemasan, mengemasnya dan menempelkan stiker label."

Sebenarnya ia ingin merasakan kerja di perkantoran di Sydney. Pernah selama sebulan ia mencoba melamar, namun sampai saat ini belum berhasil.

Melinda mengaku mencari pekerjaan adalah hal yang paling berat di Australia, karena butuh proses, wawancara dalam bahasa Inggris, hingga harus melewati masa percobaan.

"Karenanya banyak peserta program WHV yang tidak siap menyiapkan mental berjuang, tidak siap untuk terus menerus cari kerja dan bersosialisasi dengan orang dari negara-negara lain."

Menurut Melinda yang paling terpenting adalah membangun koneksi dan pertemanan.

"Cari banyak teman dan kenalan untuk informasi pekerjaan, ini yang paling utama: networking."

Melinda menyambut baik rencana pemerintah Australia yang hendak menambah kuota peserta program WHV dari Indonesia, meski hingga saat ini pemerintah Australia belum menjelaskannya secara terperinci.

"Menurut saya ini bagus-bagus saja, karena artinya Indonesia lebih diakui Australia dan kita tidak kalah saing dengan Jepang, Taiwan, Korea, yang tidak ada kuotanya."

Pengamat Indonesia dari Indonesia Insitute di Perth Ross Taylor merespon positif rencana pemerintah Australia ini mengingat begitu populernya program tersebut.

"Saat proses pendaftaran dibuka 28 Agustus lalu, kuota 1.000 pendaftar langsung terisi dalam waktu tujuh jam," ujar Ross Taylor, Presiden Indonesia Institute saat dihubungi ABC Indonesia.

Tapi Ross mengaku jika proses pendaftarannya masih terlalu berbelit dan mahal.

"Pemohon harus mnenyediakan surat pendukung dari pejabat imigrasi Australia dan memiliki uang $5.000 [lebih dari Rp 50 juta] di rekening bank mereka," katanya.

"Banyak pemuda Australia sendiri tidak memiliki $5.000 yang tidak dipakai di rekening mereka."

Mahalnya biaya dan pendaftaran yang terlalu birokratis menurut Indonesian Institute telah menyebabkan banyaknya penolakan permohonan dan kuota menjadi tak terpenuhi.

"Sebagai konsekuensinya, mendiskualifikasi anak-anak muda Indonesia yang berkualitas dan ingin lebih mengenal Australia."

Tapi menurut Melinda, biaya tersebut memanglah dibutuhkan. Seperti pengalamannya selama hampir sebulan lebih, ia sempat menganggur di Darwin sehingga hanya tergantung pada uang yang dimilikinya.

Melinda juga menjelaskan bagaimana ia bisa menutup 'modal' dalam waktu tiga sampai empat bulan.

"Di pabrik, saya mendapat gaji sebesar $600 [lebih dari Rp 6 juta] per pekan, dengan biaya hidup $200 - $250 [lebih dari Rp 2 hingga 2,5 juta] per pekan, jadi ada sisa $400 [lebih dari Rp 4 juta] yang bisa ia tabung dalam sepekan."

"Bandingkan kalau di Indonesia Rp 4 juta itu gaji sebulan, belum termasuk pengeluaran."

Seperti Melinda, Agustina yang juga pernah diwawancarai ABC Indonesia juga mengaku jika faktor uang menjadi daya tarik utama anak-anak muda ingin datang ke Australia. Diantara mereka ada pula yang tidak ingin kembali ke Indonesia.

Melinda sendiri masih belum memutuskan apakah ia ingin kembali ke Indonesia atau meneruskan karirnya di Australia dengan melanjutkan studi.

"Saya sudah terbiasa di Australia, mulai nyaman dengan kehidupan yang mandiri meski kadang merasa lelah dengan pekerjaan yang mengandalkan fisik."

Jika seandainya ia kembali ke Jakarta untuk bekerja kantoran, Melinda paham benar jika pengalamannya di Australia tidaklah relevan.

"Tapi saya telah mengembangkan diri, menambah banyak pengetahuan, mengasah kemampuan berhubungan dengan orang-orang dari beda negara dan membuka wawasan," ujarnya.

 
SHARES
Komentar