Catat Cerita Para Eksil yang Ingin Mati di Tanah Kelahiran

Ari Junaedi, Raih Doktor berkat Teliti Pelarian Politik Tragedi 1965

Catat Cerita Para Eksil yang Ingin Mati di Tanah Kelahiran
KORBAN 1965: Ari Junaedi (kanan) bersama keluarga Imam Soedjono di Biljmer, Belanda pada pertengahan 2007. Imam adalah seorang tokoh pelarian politik (eksil). Foto : Dokuken Pribadi for Jawa Pos
Mengapa mau mengeluarkan uang sebanyak itu dan apakah tidak takut ikut distigma prokomunis" "Saya ini anak tentara yang klir dari tragedi 1965. Saya sendiri lahir pasca-1965. Saya hanya gelisah bangsa kita tidak pernah menyelesaikan pekerjaan rumah. Mulai 1965, 27 Juli (Kudatuli, Red), maupun pelanggaran HAM 1998. Kalau kita terbiasa menumpuk masalah, bangsa ini tidak akan pernah maju," tegas Ari dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

 

Berdasar penelitiannya, hingga kini tersebar lebih dari 1.500 eksil di berbagai negara. Ari berharap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mau menuntaskan status politik para eksil tragedi 1965 yang selama ini distigma pembangkang atau dissident dan dihapus kewarganegaraannya tersebut.

 

Dengan niat tulus semangat rekonsiliasi dan kemanusiaan, dia menyarankan agar pemerintah menghapus stigma komunis dan memberikan kemudahan pengurusan kewarganegaraan baru bagi para eksil tragedi 1965 bersama keluarganya. "Kita telanjur membuang sebuah generasi terdidik karena kebijakan pemerintah masa lalu," sesal Ari. (*/c5/ari)

Para pelarian politik (eksil) tragedi G 30 S PKI 1965 menarik untuk diteliti. Itulah yang dilakukan Ari Junaedi, dosen FISIP UI, untuk meraih gelar


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News