Catatan Dahlan Iskan tentang Strategi Merebut Hati dan Mengisi Perut di Golden Triangle (4)

Terinspirasi Kualitas Kopi dari Luwak Brrruuuttt....

Catatan Dahlan Iskan tentang Strategi Merebut Hati dan Mengisi Perut di Golden Triangle (4)
Catatan Dahlan Iskan tentang Strategi Merebut Hati dan Mengisi Perut di Golden Triangle (4)
Tidak semua lahan ditanami macadamia. Kawasan tersebut terlalu luas. Beberapa plot lainnya ditanami kopi. Kebun kopinya sudah seluas 820 ha. Juga sudah jadi. Sudah 2 juta pohon berbuah.

Uniknya, kebun kopi itu tidak dikelola seperti perkebunan kopi pada umumnya bahwa rakyat setempat sebagai buruh pemetik kopi. Di Doi Tung, rakyat tidak sekadar menjadi buruh. Rakyat menjadi pemilik: pemilik pohonnya saja, bukan sekalian dengan tanahnya. Yayasan Ibu Suri memang memilih strategi menyewakan pohon-pohon kopi itu kepada petani. Tentu dengan uang sewa yang bukan saja terjangkau, tapi begitu murahnya sehingga saya lihat sewa-menyewa itu hanya sebagai ''ijab kabul'' bahwa sejak hari itu pohon-pohon tersebut telah menjadi milik mereka.

Sejak sistem persewaan pohon itu dijalankan, produktivitas dan kualitas kopinya naik drastis. ''Petani merasa kopi itu milik mereka sendiri,'' ujar Khun Chai di hadapan delegasi dari Indonesia. Di dalam delegasi ini, selain dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dipimpin Komjen Pol Gories Mere dan dari tim Artha Graha Peduli yang dipimpin sendiri oleh Tomy Winata, ada Brigjen Pol Surya Darma dan Kol Tomy Sugiman dari Satgas Antiteror. Di luar tugasnya sebagai pemberantas teroris, Brigjen Surya Darma saya lihat sangat gelisah untuk bisa menemukan pemikiran dan cara-cara baru mengatasi terorisme dengan jalan yang tidak seperti dilakukan Amerika.

Bagaimana penyewaan pohon kopi itu bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas? ''Kalau petani hanya disuruh bekerja memetik kopi, pasti kopi yang baru kelihatan agak merah sudah ikut mereka petik. Tapi, dengan memiliki sendiri, petani benar-benar hanya memetik kopi yang sudah merah masak,'' ujar Khun Chai. Dengan demikian, kopi yang diolah kelak benar-benar hanya kopi yang memang sudah masak. Logika itu dia samakan dengan kopi luwak di Indonesia. ''Luwak kan hanya mau makan kopi yang sudah masak di pohon,'' ujar Khun Chai yang ternyata bisa mengucapkan kata ''luwak'' dengan nada yang sempurna. ''Kalau luwak sudah brrruuutttt, biji kopi yang keluar dari sininya memang biji kopi yang terpilih,'' katanya sambil menudingkan jarinya ke pantatnya dan merendahkan pantatnya memeragakan bagaimana luwak buang kotoran.

Produk holtikultura pengganti opium mulai membuahkan hasil. Agar bisa bertahan dan menguat di pasar, Kun Chai mempunyai cara kreatif bagaimana memasarkan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News