Cegah Putus Sekolah, Aris Prasetyo Ajak Siswa Bikin Film Pendek

Empat Tahun, Jumlah Murid Naik Tujuh Kali Lipat

Cegah Putus Sekolah, Aris Prasetyo Ajak Siswa Bikin Film Pendek
Cegah Putus Sekolah, Aris Prasetyo Ajak Siswa Bikin Film Pendek
Tanpa banyak pikir, alumnus Jurusan Seni Rupa Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta pada 2006 itu memutuskan untuk mendaftar sebagai guru. "Seminggu kemudian, saya diterima menjadi guru pengabdi (non-PNS, Red)," kata Aris di Jakarta pekan lalu.

Setelah bergabung dengan SMP Negeri 4 Satu Atap, Aris baru mengetahui bahwa sekolah dengan dua ruang kelas dan satu ruang guru itu hanya memiliki 39 siswa. Sudah jadi rahasia umum, anak-anak Desa Tunjungmuli dan sekitarnya kurang berminat untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus SD. Faktor orang tua yang juga tidak antusias tentu berpengaruh.

Lingkaran setan tersebut berlangsung selama bertahun-tahun. Karena itu, didirikanlah SMP Negeri 4 Satu Atap pada 2007. SMP itu disebut "satu atap" karena lokasinya menyatu dengan SD Negeri 2 Tunjungmuli. "Begitu lulus SD, kalau nggak menikah, ya berangkat (mencari kerja, Red) ke Jakarta," ungkap pria kelahiran Purbalingga, 4 Juli 1979, itu.

Aris merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Dia berupaya memikirkan cara yang efektif untuk menarik minat anak-anak dan orang tua.

Awalnya, niat Aris Prasetyo mendirikan kegiatan ekstrakurikuler film di SMP tempatnya mengajar sangat sederhana. Dia hanya ingin menarik minat anak-anak

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News