Cendol Dawet

Oleh: Dahlan Iskan

Cendol Dawet
Dahlan Iskan. Foto: Ricardo/JPNN.com

Hasilnya: kemarin diambil darah lagi. Sudah turun lagi 400 poin. Tinggal perlu turun 1100 lagi.

Saya sendiri akan mengakhiri penggunaan istilah cendol atau mencendol itu. Tapi saya juga belum menemukan istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat.

Salah satu yang menanggapi soal cendol itu adalah Prof Dr Med Puruhito. Beliau adalah "ayatullah" penyakit jantung Surabaya. Beliau juga perintis bedah jantung.

"Istilah yang pas adalah pengentalan. Memang bisa jadi clot. Kalau ''mencendol'' kurang pas. Secara fisiologis dan hemorheologis (ilmu aliran darah) adalah mengental," tulis Prof Puruhito.

Clot itulah yang saya gambarkan seperti cendol. Meski tidak terlihat oleh mata. Ukuran cendol itu hanya bisa dilihat di mikroskop.

Intinya: cendol-cendol di darah saya itu sangat berbahaya. Terutama karena status saya yang 'residivis' itu: saya pernah terkena aorta dissection. Tiga tahun lalu. Di Madinah, Arab Saudi.

Hari itu saluran utama darah saya pecah. Sejak dari dekat jantung sampai di sekitar pusar. Sepanjang lebih 50 cm.

Saya bersyukur tidak meninggal saat itu. Terutama saat di penerbangan pulang-paksa dari Madinah ke Surabaya. Atau tiga hari kemudian: saat terbang dari Surabaya ke Singapura.

Intinya: cendol-cendol di darah saya itu sangat berbahaya. Terutama karena status saya yang residivis.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News