Rabu, 19 Desember 2018 – 10:29 WIB

Cerita Stenly Hanyut di Lautan Lepas, Masuk Mikronesia

Selasa, 13 November 2018 – 00:06 WIB
Cerita Stenly Hanyut di Lautan Lepas, Masuk Mikronesia - JPNN.COM

jpnn.com - Stenly Tatoy, nelayan asal Desa Gangga Satu, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sabtu (10/11) akhirnya tiba di Manado. Ia tiba di Bandara Sam Ratulangi sekira Pukul 23.00 WITA.

Diwawancarai awak media, Stenly mengungkapkan selama berada di Pulau Yap Negara Federasi Mikronesia, banyak diperiksa kepolisian.

“Mereka di sana pulau kecil, mungkin mereka takut kalau ada teroris yang masuk. Namun pak polisi dan masyarakat di sana baik-baik semua,” tutur Stenly, yang malam itu dijemput keluarga besarnya di bandara.

Dia juga menceritakan bagaimana mendapat penanganan medis pasca hilang tiga bulan. “Lima hari saya di rumah sakit dan dipasang empat botol infus setiap hari. Semua itu dibayar oleh ibu Amelia (WNI di Mikronesia) sekitar 9 dolar,” sebut Stenly.

Proses pemulangan bukan tanpa hambatan. Karena itu dia berterima kasih kepada pemerintah Indonesia. “Terima kasih karena sudah memulangkan saya kembali lagi ke Manado. Semua dilayani dengan baik sehingga saya bisa tiba lagi di Manado dan kumpul dengan keluarga,” sebut Stenly.

Dia juga mengisahkan bagaimana keadaannya saat hanyut di lautan lepas sejak 9 Juni (putus dari rakit), lalu ditemukan 6 Oktober malam.

“Saya hanya bisa terus berdoa. Saya menangis dan berdoa siang malam, sampai suatu saat saya lewat pulau di Filipina malam itu saya lihat lampu pulau di Filipina terang sekali lampu itu. Tetapi saat itu saya terus dibawa oleh badai itu hingga hanyut terus. Kemudian lewat kepulauan Palau terus lewat lagi ke pulau Yap, hingga sudah jauh sekali. Tapi karena ditiup terus oleh badai saya kembali lagi ke sekitar Palau. Nah di situ saya ketemu kapal dari Mikronesia. Setelah itu saya dibantu oleh awak kapal yang ditugaskan kapten kapal tersebut, untuk mengangkut barang-barang saya,” tutur Stenly.

“Setelah itu saya langsung peluk sama kapten sampai nangis-nangis. Kemudian kapten suruh ABK-nya untuk memasak nasi buat saya. Saat itu nasinya banyak sekali. Waktu itu saya makan sampai habis sampai perut saya sakit,” sambung Stenly.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar