Cerita Survivor Stroke di Hari Stroke Dunia

Lepas Batok Kepala saat Imlek

Cerita Survivor Stroke di Hari Stroke Dunia
BERSYUKUR TERUS HIDUP: Christine Wiguna bersama dua putri cantiknya, Michelle Valencia (kiri) dan Jenice Catline. (Dimas Alif/Jawa Pos)

Kondisi tersebut berlangsung selama 2,5 bulan. Selama itu, tutur Lilik, keluarga hanya bisa pasrah. Dokter pernah mengatakan bahwa kemungkinan hidup Christine 50:50 saja. Selanjutnya, ada tiga operasi lagi yang dilakukan dr Asra bersama dr Nur Setiawan Suroto SpBS, termasuk operasi keempat yang meliputi pemasangan batok kepala lagi. Selama kurun waktu itu, Christine kadang sadar. Bisa mengerti perkataan orang di sekelilingnya dengan memberikan respons berupa gerakan. ”Suaminya 24 jam di rumah sakit menjaganya, saya di rumah menjaga anak-anaknya,” imbuh Lilik.

Sedangkan Christine sendiri mengaku tidak sadar sama sekali saat itu. ”Yang saya tahu adalah suatu pagi saya duduk di kursi roda dan keliling rumah sakit. Saya merasa tidak pusing dan dokter memperbolehkan pulang,” paparnya. Momen yang diceritakan Christine itu adalah hari ketika dia diizinkan pulang oleh dokter.

Di rumah, Christine masih harus banyak istirahat. Setiap hari dia mesti minum obat. Pantangan makanannya tidak terlalu banyak. Hanya, makanan asin mesti dihindari untuk mencegah hipertensi. Untuk mengembalikan kondisi, Christine menjalani fisioterapi sebulan sekali.

Sejak stroke, efek samping paling terasa pada ingatannya. Dia merasa seperti amnesia alias mengalami gangguan daya ingat. ”Misalnya barang anak saya yang biasanya ditaruh di mana, jadi lupa. Atau kemarin bikin janji sama papanya anak-anak, tapi lupa,” ucap ibunda Jenice Catline dan Michelle Valencia tersebut.

Christine sampai minta kepada dr Asra vitamin khusus otak agar daya ingatnya kembali normal. Sebetulnya obat-obatan yang diminum sudah termasuk vitamin otak. Namun, memang hasilnya tidak bisa instan.

Apakah merasakan gejala sebelum pingsan ketika serangan stroke itu datang? Christine mengaku tidak punya keluhan. Tapi, saat SMA, dia memang sering pusing. Sakit kepala itu dia anggap enteng karena langsung lenyap begitu minum analgesik. Christine kini memang masih belum bisa menjalani hari-hari seperti sebelum sakit. Namun, dia tak henti-henti bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup sampai saat ini. ”Untuk itu, saya ingin melakukan kesaksian di gereja. Saya ingin menceritakan bagaimana bisa mendapatkan keajaiban untuk hidup lagi,” ujarnya.

Stroke adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Penyebabnya bisa pecahnya pembuluh darah, bisa juga penyumbatan. Jika Christine adalah contoh yang mengalami pecahnya pembuluh darah, Christofel, 32, punya cerita mengalami stroke karena penyumbatan.

Hari itu Christofel merasa sedang masuk angin. Dia, yang sedang mengerjakan sebuah proyek, minta dikeroki anak buahnya. Setelah selesai, dia pun bangun. Seketika itu tangan kanannya kaku. Sulit digerakkan. Terasa berat seperti kram hebat. Diikuti dengan kaki kanan. ”Saya sudah duga itu pasti stroke soalnya sudah sempat baca di internet,” katanya.

Hari ini (29/10) diperingati sebagai World Stroke Day atau Hari Stroke Sedunia. Penyakit yang menyerang otak itu kini menjadi penyebab kematian terbanyak

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News