Corbuzier

Corbuzier
Deddy Corbuzier. Foto: Instagram/mastercorbuzier

Namun, di tengah gelimang uang, kekayaan, dan keterkenalan, Sullivan kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu kemanusiaan. Ia baru menyadari bahwa ia tidak lagi menjadi manusia. Atau, ia menjadi manusia tanpa kemanusiaan.

Esai yang ditulisnya menjadi viral di seluruh dunia, judulnya ‘’I Used to be Human’’, Saya Pernah Menjadi Manusia, sebuah pengakuan yang sangat powerful yang menunjukkan bagaimana kecanduan gawai telah menjadi penjara yang membawa penderitaan berkepanjangan.

Sulivan menulis: Dalam beberapa bulan terakhir, saya menyadari bahwa saya telah terlibat dalam penyangkalan seperti kebanyakan pecandu digital lain. 

Saya telah lama memperlakukan kehidupan online saya sebagai suplemen untuk kehidupan nyata saya, seolah-olah sebagai tambahan. 

Saya menghabiskan berjam-jam berkomunikasi dengan orang lain sebagai suara tanpa tubuh, padahal kehidupan dan tubuh saya yang sebenarnya masih ada di sini.

Namun, kemudian saya mulai menyadari, ketika kesehatan dan kebahagiaan saya memburuk, dan itu bukan pilihan. 

Setiap jam yang saya habiskan online tidak dihabiskan di dunia fisik. Setiap menit saya asyik dengan interaksi virtual, saya tidak terlibat dalam pertemuan dengan manusia.

Sebuah studi kecil pada 2015 menunjukkan bahwa setiap menit di planet ini, pengguna YouTube mengunggah 400 jam video dan pengguna Tinder menggesek profil lebih dari satu juta kali. Setiap hari, ada miliaran "like" di Facebook.

Mungkin Deddy Corbuzier sengaja menghilang untuk membersihkan diri dari sampah-sampah digital, menempuh jalan pertobatan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News