Kamis, 22 November 2018 – 17:57 WIB

Cosmas Hendrikus Riberu; Dari Petinju Jadi Kartunis

Selasa, 20 Maret 2012 – 00:20 WIB
Cosmas Hendrikus Riberu; Dari Petinju Jadi Kartunis - JPNN.COM

Cosmas Hendrikus Riberu menunjukkan salah satu hasil karyanya. Foto : Thomas Aquino/Jawa Pos Foto :

Apa hubungan tinju dengan kartun? Jawabannya ada pada diri Cosmas Hendrikus Riberu. Dari seorang petarung di ring, dia kini menjadi seniman kartun yang berkibar di Pulau Dewata.
 
  THOMAS AQUINO, Denpasar
 
BERKULIT gelap dan berperawakan tinggi besar membuat Cosmas Hendrikus Riberu tampak garang. Belum lagi garis-garis wajah yang keras. Dengan mengenakan kacamata hitam, pria berdarah Flores itu terkesan semakin "angker".
 
Namun, gambaran garang dan angker itu seketika luntur saat berkenalan lebih dengan Cece, sapaan akrab Cosmas Hendrikus Riberu. "Maaf terlambat. Bali macet banget," kata Cece kepada Jawa Pos di Warung Tresni, Jalan Drupadi, Denpasar.
 
Di balik kesangarannya, Cece adalah pria yang santun. Dia membungkuk saat bersalaman. Belum lagi kaus bergambar kartun yang dikenakannya. "Saya ini keturunan Flores, tapi sejak lahir di sini (Bali, Red)," kata pria kelahiran 5 November 1967 itu.
 
Di kalangan seniman dan kartunis di Bali, Cece bukanlah nama yang asing. Dia merupakan salah seorang kartunis ternama di Pulau Dewata. Namun, ada beberapa hal yang membuat Cece berbeda dengan kartunis-kartunis beken.
 
Pertama, Cece dianggap satu-satunya kartunis di Bali yang berdarah Flores. Kedua, bapak empat anak itu sebelumnya merupakan petinju nasional. Petinju" Ya! "Mungkin saya satu-satunya orang Flores mantan petinju yang menjadi kartunis," katanya. "Banyak teman seangkatan saya yang sekarang menjadi preman atau dept collector," imbuh Cece.
 
Cece mengatakan, lingkungan keluarganya berdarah petinju. Ayahnya, Bernadus Riberu, merupakan anggota TNI-AD. Kakaknya, Joni Riberu, adalah petinju nasional yang pernah menjadi pelatih. Beberapa sepupunya juga menjadi petinju.
 
Karir sang kakak yang melesat di ibu kota membuat Cece yang saat itu duduk di bangku SD termotivasi. Dia sangat ingin menjadi petinju yang kuat seperti yang kakak. Menginjak SMP, Cece mulai serius menekuni tinju. Awalnya sang ayah tidak mendukung niat anaknya itu. Atas kengeyelan Cece, lambat laun sang ayah mendukung dengan harapan Cece bisa menjadi petinju hebat seperti sang kakak. Dia bergabung dengan Sasana Bali Jaya Boxing Camp.
 
Kemampuannya terus terasah. Saat remaja dan masuk kelas junior, Cece beberapa kali mengikuti kejuaraan tinju dengan lawan petinju-petinju senior. Bukannya kalah, dia justru sering menang. Cece pun menapak pentas tinju nasional.
 
Beberapa gelar yang diperoleh Cece adalah runner-up Piala Wali Kota Semarang 1984, juara Piala Udayana 1985, Kejurnas Amatir Junior 1985 di Jakarta, dan juara kejuaraan antarsasana se-Bali 1985. "Saya bermain di kelas layang ringan," ujarnya.
 
Selain menggeluti tinju, Cece bersama teman-teman sebaya membentuk geng The Pins. Sasaran geng remaja itu adalah menyerbu acara-acara ulang tahun remaja berduit yang diselenggarakan di restoran-restoran atau kafe yang tersebar di Bali.
 
Mereka kerap berkonvoi mencari sasaran. Begitu sampai di pesta, mereka menyerbu makanan. Beberapa kali Cece dan kelompoknya bertemu geng serupa sehingga pertempuran antargeng tidak bisa dihindari. "Saya tidak pernah kalah. Mereka tidak pernah latihan, saya kan latihan. Buk buk buk... lari mereka," tuturnya sambil memperagakan pukulan-pukulan khas seorang petinju. 
 
Kehebatan Cece di ring tinju harus berakhir saat dia berada di puncak. Kala itu Cece bertanding di final Wali Kota Cup Semarang 1984. "Lawan saya adalah Muhar Sutan," katanya.
 
Saat jual beli pukulan, tiba-tiba tangan kiri Cece mengeluarkan bunyi  kreekkk. Dia meringis kesakitan dan ternyata tulang tempurung tangan kirinya patah. Cece tidak menyerah. Tapi, dia kalah angka.
 
Cedera itu lumayan parah. Tangan kiri Cece tidak bisa kembali seperti semula. Dia pun pasrah dan mengurungkan cita-citanya untuk menjadi jawara dunia. "Saya sempat stres dan frustrasi. Tapi, saya anggap itu adalah jalan Tuhan. Tuhan menyetop dan saya harus berpindah (profesi lain)," tutur Cece.
 
Cece yang saat itu baru lulus SMP mencari sekolah yang santai. Dia memilih sekolah kesenian di Bali. Dia belajar menggambar. Awalnya Cece sama sekali tidak berminat. Tapi, lama-kelamaan kemampuan menggambar Cece terasah. Dia sempat menjadi kartunis di harian Bali Post dan mengikuti pameran
 
Namanya berkibar ketika bersama rekannya menjadi konseptor majalah kartun Bog Bog sekitar 2001. Cece membuat maskot Bogler yang menjadi tokoh utama majalah tersebut. Maskot sosok pria yang selalu tertawa lengkap mengenakan udeng dan bunga di telinga khas laki-laki Bali itu diberi nama I Made Bogler.
 
Sekarang kebanyakan kartun khas Bali mengacu kepada karya Cece. Bisnis kaus pun dilirik Cece. Pada 2002, dia mendirikan bisnis kaus merek Jangkrik. Desainnya murni kartun-kartun karya Cece.
 
Bisnis kaus kartun itu semakin besar. Sejak saat itu banyak desain kaus mulai menjiplak karya Cece. Dengan sekejap, desain-desain yang dianggapnya tiruan itu mulai membanjiri Bali. Hingga akhirnya pada akhir 2011, bisnis kaus Jangkrik tutup.
 
Setelah sempat terpuruk, kini Cece kembali merajut cita-cita barunya. "Sekarang saya punya proyek baru. Yaitu, membangun perkampungan kaus kartun di desa pelosok Bali," katanya.
 
Cita-citanya tidak hanya sebatas mengeruk keuntungan. Cece ingin mengenalkan kesenian kartun kepada masyarakat, khususnya penduduk di perkampungan Bali. Tentu saja, dengan memperkenalkan kesenian kartun, dia berharap agar masyarakat, terutama anak-anak, di kampung bisa belajar banyak tentang kartun dan siapa tahu ada penduduk kampung yang menekuni bidang kartun.
 
Dari segi bisnis, Cece berangan-angan agar kampung kartun nanti bisa menarik wisatawan dan mendongkrak ekonomi penduduk sekitar. Yang dipilih Cece bukan daerah yang sudah ramai turis, tapi pelosok yang masih sepi wisatawan. Target bisnis itu harus berjalan tahun ini. "Baik masyarakat maupun turis nanti bisa menyaksikan langsung bagaimana proses membuat kartun hingga menjadi kaus," tuturnya.
 
Bagaimana dengan tinju? Setelah tertawa keras, dia menyatakan tidak akan mendekati dunia keras tersebut. "Kalau emosi saya terpancing sedikit, bisa-bisa jurus-jurus lama saya keluar lagi. Bagaimanapun, kemampuan saya masih tersisa," katanya, lalu kembali memperagakan ayunan tinju-tinjunya. "Lebih baik di rumah saja, menggambar kartun," imbuhnya, lantas tertawa. (*/c4/ca)
 
SHARES
TAGS   kartunis tinju
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar