Cukur sebagai Ungkapan Syukur untuk Eks Wali Kota Jogja Tangkapan KPK

Cukur sebagai Ungkapan Syukur untuk Eks Wali Kota Jogja Tangkapan KPK
Salah satu aktivis Dodok Putra Bangsa mencukur rambut di depan Balai Kota Yogyakarta, Sabtu (4/6). Aksi cukur rambut itu sebagai bentuk rasa syukur atas ditangkapnya eks Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti oleh KPK. Foto: M. Syukron Fitriansyah/JPNN.com.

Ahli hidrologi itu menyatakan semestinya hotel tidak menggunakan air tanah. Pramono mencontohkan Kabupaten Kulon Progo memiliki Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

"Kulon Progo menggunakan SPAM karena kalau hanya dengan air tanah itu tidak mungkin memenuhi kebutuhan operasional," ujar Pramono.

Menurut dia, sistem itu menggunakan air permukaan atau sungai yang diolah menjadi air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Sistem tersebut telah digunakan di kota besar seperti Jakarta yang kebutuhan akan airnya sangat tinggi.

Namun, Kota Jogja seakan-akan dininabobokan oleh kemudahan memperoleh air tanah.

Mayoritas masyarakat Kota Pelajar itu bergantung pada akuifer yang menyaring hujan di lereng Gunung Merapi.

Kondisi itu juga mendorong hotel dan apartemen menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasar hal itu, Pramono menilai Pemkot Jogja tidak siap mengganti penggunaan air tanah bagi hotel sehingga memunculkan konflik di masyarakat.

Dodok Putra Bangsa menggelar syukuran atas langkah KPK menangkap eks Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti. Cukur rambut itu sebagai cara Dodok membayar nazarnya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News