Dana Cekak hingga Didi Petet Meninggal Dunia

Dana Cekak hingga Didi Petet Meninggal Dunia
KSAL Laksamana Ade Supandi (kiri) saat meninjau Paviliun Indonesia di WEM 2015. Setiap hari ribuan orang mengunjungi stan Indonesia. Foto atas, almarhum Didi Petet. Foto: Ilham Wancoko/Jawa Pos

PERJUANGAN Tim Paviliun Indonesia untuk bisa tampil di ekspo perdagangan dunia, World Expo Milano (WEM) 2015, di Milan, Italia, ternyata diliputi onak dan duri. Mulai ketiadaan anggaran hingga puncaknya, meninggalnya aktor kawakan Didi Petet sebagai motor tim.
------------
Laporan Ilham Wancoko, Milan
------------
Hari itu (Senin, 8/6) suasana Paviliun Indonesia di WEM 2015 begitu ramai. Pengunjung memadati area pameran seluas 90 meter persegi tersebut. Stan Indonesia dibagi dua, yakni ruang pamer benda budaya dan area kuliner tanah air.

Di antara 146 negara peserta, stan Indonesia termasuk yang menarik perhatian. Sepanjang hari ratusan pengunjung keluar masuk melihat kekayaan budaya Nusantara, termasuk kekhasan makanannya.

Apalagi ketika tim drum band Genderang Suling Gita Jala Taruna tampil di kompleks WEM membawakan 25 lagu. Penonton seperti terhipnotis melihat atraksi yang disuguhkan 77 taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) tersebut. Kemeriahan bertambah saat tim kesenian Kementerian Pariwisata yang beranggota mahasiswa Universitas Hang Tuah serta mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) dan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) juga meramaikan Paviliun Indonesia. Saking penuhnya, pengunjung harus berdesak-desakan untuk bisa menyaksikan pertunjukan itu.

Penampilan Paviliun Indonesia dalam WEM yang berlangsung selama enam bulan, mulai 1 Mei hingga 31 Oktober, tersebut sebenarnya cukup sederhana. Di halaman depan disiapkan panggung pertunjukan.

Di dalam paviliun tersaji aneka kekayaan alam dan budaya Indonesia dari berbagai daerah yang membuat penasaran para pengunjung. Di antaranya wayang golek, patung, hingga alat penangkapan ikan. Pemerintah menargetkan Paviliun Indonesia dikunjungi 2 juta orang.

Tapi, siapa yang mengira bahwa keberadaan Paviliun Indonesia itu harus diusahakan dengan berdarah-darah. Tim yang beranggota 14 orang tersebut harus jungkir balik agar stan Indonesia bisa ikut serta dalam ekspo bergengsi tingkat dunia itu. Pasalnya, pemerintah tidak menyediakan anggaran khusus. Maka, aktor Didi Petet yang menjadi anggota tim berinisiatif mencari dana dari berbagai pihak. Didi bersama anggota lainnya lalu berkeliling ke sejumlah perusahaan untuk menawarkan sponsorship.

”Dari puluhan perusahaan yang kami datangi, hanya beberapa yang mendukung,” ungkap Direktur Paviliun Indonesia Budiman Muhammad kepada Jawa Pos (induk JPNN).

Dari pencarian dana itu, akhirnya terkumpul sekitar 50 persen dari kebutuhan. Meski begitu, mereka tetap berangkat ke Milan karena pada 1 Mei WEM dimulai. Dengan kondisi yang serba terbatas, Paviliun Indonesia akhirnya siap dikunjungi. Memang, jelas Budiman, awalnya pengunjungnya masih sepi. Sebab, benda budaya yang dipamerkan hanya sedikit dan kurang menarik.

PERJUANGAN Tim Paviliun Indonesia untuk bisa tampil di ekspo perdagangan dunia, World Expo Milano (WEM) 2015, di Milan, Italia, ternyata diliputi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News