Jumat, 24 November 2017 – 20:15 WIB

Di Kota Pasuruan, Bapak Jabat Wali Kota, Anak Jadi Ketua DPRD

Kamis, 06 Januari 2011 – 08:08 WIB
Di Kota Pasuruan, Bapak Jabat Wali Kota, Anak Jadi Ketua DPRD - JPNN.COM

Jabatan yang diemban bapak dan anak ini tergolong langka. Sang bapak menjabat wali kota dan sang anak menjadi ketua DPRD di kota yang sama.
 
====================
 NUR LAILY A, Pasuruan
====================

HAL yang termasuk langka tersebut terjadi di Kota Pasuruan, Jawa Timur. Sejak 18 Oktober 2010, kota itu punya pemimpin baru. Yakni, Wali Kota Hasani dan wakilnya, Setiyono, yang berhasil memenangi pilkada pada Juli tahun lalu.
 
Sebelum terpilih sebagai wali kota, Hasani menjadi ketua DPRD Kota Pasuruan. Kini, ketika pria 56 tahun tersebut sudah menjadi wali kota, kursi ketua DPRD yang ditinggalkan ternyata digantikan M. Ismail yang tak lain adalah anak kandungnya. Hanya, bedanya, Hasani sudah dilantik, sedangkan Ismail belum. Tapi, surat penunjukannya sudah dikirim ke gubernur.
 
Kemarin sekitar pukul 08.00, wartawan Radar Bromo (Jawa Pos Group) menemui bapak dan anak itu yang sedang bercengkerama di rumah dinas wali kota di Jl Panglima Sudirman. Melihat dua sosok tersebut, dari wajahnya sudah bisa ditebak bahwa mereka adalah bapak dan anak.
 
Ketika Radar Bromo ikut nimbrung dalam pertemuan bapak dan anak itu, tidak ada satu pun obrolan seputar pekerjaan. Mereka lebih banyak mengobrol masalah keluarga. "Kami memang selalu menyempatkan diri untuk bertemu setiap pagi, meski hanya dalam hitungan menit. Itu cukup untuk sekadar menguatkan hubungan bapak dengan anak," kata Hasani yang pagi itu mengenakan setelan pakaian dinas lengkap dengan lencana.
 
Dia menceritakan, di antara tujuh anaknya, Ismail yang merupakan anak kedua adalah satu-satunya yang terjun ke dunia politik dan organisasi. "Saya seperti punya jiwa dan semangat yang sama dengan dia (Ismail)," ujarnya.
 
Ketika Hasani aktif di PKB, jejaknya lantas diikuti sang anak. Saat Hasani menjadi ketua Dewan Tanfidziah PKB Kota Pasuruan, Ismail menjadi wakil sekretaris. "Gara-gara seorganisasi dan sama-sama menjadi anggota dewan (DPRD Kota Pasuruan, Red), kami pernah bersaing untuk ikut dalam seleksi pemilihan ketua DPRD periode 2009?2014," cerita Hasani. Saat itu, Hasani akhirnya terpilih. Sebelumnya, dia juga menjadi ketua DPRD periode 2004?2009.
 
Karir politik Hasani memang cukup moncer. Dibanding politikus PKB lainnya, dia jauh lebih beruntung. Dia menjadi ketua DPC PKB dua periode berturut-turut.

Kemonceran karir politik sang ayah itu ternyata menurun kepada putranya, Ismail. Hanya dalam beberapa tahun terjun sebagai aktivis parpol, Ismail sudah menjabat wakil sekretaris DPC PKB mendampingi ayahnya. Pada Pemilu 2009, Ismail terpilih sebagai anggota DPRD. Dia pun langsung dipercaya menjadi ketua komisi I.
 
Tak lama kemudian, ketika ayahnya lengser dari kursi ketua DPRD karena menjadi wali kota, Ismail bersama dua rekannya, M. Nawawi dan Abdullah Junaidi, direkomendasikan sebagai peserta seleksi fit and proper test untuk mengisi kursi ketua dewan. Akhirnya, Ismail terpilih.
 
Mulusnya perjalanan karir Ismail, diakui Hasani, merupakan perjuangan keras putranya dalam merebut kepercayaan partai. "Saya tidak melakukan intervensi apa pun untuk memengaruhi keputusan DPP. Sebab, saya ingin siapa pun yang dipilih benar-benar atas dasar kredibilitas dan kapabilitasnya," tegasnya.
 
Bapak tujuh anak tersebut yakin atas kemampuan anaknya yang menurut dia sudah terasah dari pengalamannya berorganisasi selama bertahun-tahun. Apalagi, selain di PKB, Ismail masih aktif sebagai ketua DPD KNPI Kota Pasuruan dan pengurus KONI.
 
Begitu DPP PKB memutuskan Ismail layak menjadi ketua DPRD, Hasani mengaku tidak lantas bernapas lega. Dirinya dan Ismail justru merasa terbebani. Mereka yakin pasti banyak yang bersuara miring atas jabatan bapak dan anak tersebut.
 
"Ini bukanlah kerajaan yang bisa dengan mudah menyerahkan warisan jabatan. Tapi, ini adalah proses demokrasi. Jadi, ketika saya mendapat amanah untuk menjadi ketua dewan, jangan pernah dihubung-hubungkan dengan sosok ayah saya," tegas Ismail.
 
Sejak awal mendapat tugas untuk mengikuti seleksi pergantian ketua DPRD, pria 35 tahun itu menyatakan sudah tidak enak hati. Bapak empat anak tersebut merasa bakal ada tudingan kontroversial bila ternyata amanah itu jatuh kepada dirinya. "Saya tidak pernah menyangka bakal terpilih. Sebab, saya hanya mengikuti instruksi yang telah digariskan DPC. Fit and proper test juga dilewati sesuai prosedur yang telah ditetapkan," ungkapnya.
 
Sejak awal pula, Ismail menyatakan pesimistis bakal mendapat amanah sebagai ketua DPRD. Sebab, jabatan wali kota yang menjadi mitra dewan dalam menjalankan pemerintahan dipegang ayahnya. Tapi, begitu namanya disebut sebagai sosok yang menerima amanah untuk menjadi ketua DPRD, beban berat serasa menimpa dirinya. Apalagi kemudian menyusul adanya tanggapan beragam pasca diterbitkannya keputusan itu oleh DPP PKB.
 
Beban berat tersebut, antara lain, banyak orang yang memandang dirinya tidak akan sanggup bekerja maksimal sebagai ketua dewan atau menjalankan fungsi kontrol lembaga legislatif terhadap kinerja eksekutif. Sebab, yang menjadi orang nomor satu di Kota Pasuruan adalah ayahnya.
 
"Padahal komitmen untuk profesional dalam menjalankan kerja legislatif ini terpupuk sejak lama. Bahkan, ketika saya menjadi anggota dewan saat ayah saya ketuanya, kritik dan protes tetap saya sampaikan bila memang kebijakan ketua dewan dipandang kurang pas," ungkapnya berterus terang.
 
Sekarang pun, setelah menerima amanah baru sebagai ketua dewan, Ismail menjadikan pandangan minus itu sebagai PR besar yang harus dituntaskan. "Harus bisa menepis tudingan fungsi kontrol dewan bakal lemah bila anak wali kota yang jadi ketuanya," ujarnya.
 
Dia juga sempat mengingatkan bahwa dalam internal DPRD berlaku kepemimpinan kolektif kolegial. Jadi, setiap kebijakan yang diambil bukan semata-mata keputusan ketua dewan. Ada wakil ketua, fraksi, dan komisi sampai pansus, panmus, maupun panggar yang akan memberikan pertimbangan.
 
Jadi, kata Ismail, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir. "Saya pun secara pribadi bertekad untuk bekerja profesional. Toh, masyarakat juga bisa mengontrol bagaimana kinerja dewan," tuturnya.
 
Dalam hubungan kekeluargaan, Ismail menyatakan tidak ada yang berubah meski sang ayah telah menjadi wali kota. Setiap pagi, turun salat Subuh, dia punya jadwal rutin datang ke kediaman orang tuanya yang saat ini menempati rumah dinas wali kota. Saat itu pula dia memanfaatkan waktu untuk bercengkerama dengan ayah maupun ibunya.
 
"Tidak ada pembicaraan yang berbau kantor bila sudah di rumah. Sejak dulu kami selalu begitu. Pantang membawa persoalan kantor ke rumah. Biar keakraban keluarga tidak dicampuri hal-hal pelik urusan kantor," tegasnya. Ketika nanti benar-benar resmi dilantik sebagai ketua DPRD, pria yang pada 24 Februari mendatang berusia 35 tahun tersebut tidak ingin mengubah kesepakatan tidak tertulis itu.
 
Bila di kantor masing-masing, mereka juga tidak memandang satu sama lain dengan hubungan anak dan bapak. Ismail tetap menjadi seorang legislator yang bertugas mengontrol serta mengawasi setiap kebijakan pemerintah daerah. Begitu juga Hasani. Dia siap dengan konsistensinya sebagai wali kota yang menjalankan kebijakan daerah.
 
"Tidak ada sungkan, dan segan saat sama-sama bertugas di posisi eksekutif maupun legislatif. Kritik harus siap kalau dinilai ada yang tidak pas. Sebaliknya, bila kebijakan itu positif, ya wajib didukung. Semua insya Allah akan berjalan sebagaimana mestinya," terang ketua dewan termuda di Kota Pasuruan tersebut. (c5/kum)

SHARES
loading...
loading...
Komentar