Minggu, 23 September 2018 – 03:34 WIB

Dikecam, Australia Punya Lima PM dan Lima Tahun

Jumat, 14 September 2018 – 10:00 WIB
Dikecam, Australia Punya Lima PM dan Lima Tahun - JPNN.COM

Pengusaha ternama Frank Lowy melontarkan penilaian pedas terhadap iklim politik Australia saat ini. Dia menyebut rentetan pergantian kepemimpinan politik tak dapat diterima dan mengingatkan agar demokrasi "dijaga secara hati-hati".

"Memiliki lima perdana menteri dalam lima tahun, tak dapat diterima," ujarnya di hadapan tokoh politik dan bisnis Australia pada Kamis (13/9/2018) malam.

"Demokrasi harus dipupuk dan diperlakukan secara hati-hati," tambahnya.

Frank Lowy, salah satu pendiri raksasa pusat perbelanjaan Westfield, menyampaikan pidatonya pada ulang tahun ke-15 Lowy Institute, sebuah lembaga pemikir ternama di Australia.

Lowy menyebut pembangunan bangsa sebagai "tugas berat" namun menurutnya berada pada posisi teratas malah menjadi lebih sulit.

Pria berusia 87 tahun itu mengkritik kecenderungan bangsa ini terhadap imigran, dan memuji kiprah mantan Menlu Julie Bishop.

Julie Bishop sendiri menggambarkan Lowy sebagai "salah satu warga negara terbaik" dan mengatakan kisahnya mencerminkan "kebenaran klasik dari nasib baik kita sebagai sebuah bangsa".

Lowy tiba di Australia pada usia 21 bersama saudaranya setelah melarikan diri dari Perang Dunia II di Eropa. Dia menyebut dirinya sebagai "manusia perahu" yang melarikan diri ke Palestina.

Dia mengatakan selama hampir 70 tahun hidup di Australia, telah mengalami negara ini terbuka untuk ide-ide baru, namun merasa sentimen tersebut telah menurun.

"Saya pikir kita bergerak ke arah yang salah," katanya. "Kita seharusnya membicarakan target, bukan topi."

"Sekarang karena perbatasan kita sudah aman, saya yakin kita bisa ambisius dalam soal imigrasi dan bermurah hati terhadap pengungsi yang datang melalui proses yang ada," katanya.

Dia juga menyoroti pemimpin AS yang bisa dibilang sekutu paling penting Australia.

Menurut Lowy, masa depan hubungan Australia dengan Amerika Serikat lebih dalam daripada sosok yang kini duduk di Gedung Putih.

"Saya menyesal bahwa Trump tak melihat keuntungan besar yang mengalir ke Amerika dari aliansi dan sistem perdagangan global," katanya.

"Dan secara pribadi, sesuai pengalaman hidupku, saya merasa lebih nyaman ketika presiden Amerika Serikat adalah pendukung demokrasi, bukan sahabat para pemimpin otoriter," ujarnya.

"Aliansi kita bukan dengan pemerintahan Trump, melainkan dengan Amerika Serikat," ujar Lowy.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar