JPNN.com

Duh, di Gunungkidul Masih Banyak Orang Gila Dipasung

Minggu, 25 September 2016 – 14:41 WIB Duh, di Gunungkidul Masih Banyak Orang Gila Dipasung - JPNN.com
PASUNG: Salah satu penderita gangguan jiwa di Gunungkidul, DIY yang dipasung oleh keluarganya karena dianggap membahayakan orang lain Foto: Gunawan/RADAR JOGJA?JPG

GUNUNGKIDUL – Wilayah Kabupaten Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sampai kini masih menempati urutan teratas dalam kasus pemasungan penderita gangguan jiwa. Dari 72 kasus pemasungan di wilayah DIY, 31 di antaranya berada di wilayah Gunungkidul.

Temuan itu merujuk pada data Rumah Sakit Jiwa Grhasia Sleman sejak 2012 hingga 2014. Karenanya, Pemkab Gunungkidul pun memberi perhatian serius pada kasus pemasungan.

Kasi Rehabilitasi Sosial, Dinsosnakertrans Gunungkidul, Winarto mengatakan, pemerintah pusat telah menargetkan pada 2017 sudah tidak ada lagi pemasungan bagi penyandang penyakit jiwa. “Program ini telah dicanangkan sejak awal 2016,” katanya seperti dikutip Jawa Pos radar Jogja.

Ia menjelaskan, dengan tiadanya pemasungan maka  penderita gangguan jiwa akan menjalani perawatan medis. Setelah sembuh dan memungkinkan adanya penilaian, pasien gangguan jiwa bisa mengikuti program pelatihan keterampilan di panti rehabilitasi.

Bahkan jika memungkinkan para penderita gangguan jiwa bisa mendapat dana jaminan sosial. “Jika nanti ada payung hukum yang mengatur dana jaminan sosial kami juga akan melangkah ke sana,” katanya.

Ia menjelaskan, Pemkab Gunungkidul dan Dinsos DIY sedang melakukan sosialisasi kampanye anti-pemasungan. Tujuannya agar kasus pemasungan tidak terjadi lagi.

“Karena penyakit jiwa adalah penyakit yang sulit diobati sehingga membutuhkan penanganan semua pihak. Tidak hanya keluarga, tetapi juga masyarakat sekitar penderita dan instansi terkait,” kata Winarto.

Dokter ahli jiwa RSUD Wonosari Ida Rohmawati menjelaskan, pemasungan terjadi karena ketidaktahuan masyarakat dalam mengobati penderita gangguan jiwa. Kasus itu terutama terjadi pada pasien yang berasal dari keluarga kurang mampu.(gun/iwa/ong/jpg/ara/jpnn)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...