Sabtu, 15 Desember 2018 – 11:30 WIB

Elpiji Melon Langka, Pertamina Gencarkan Razia

Rabu, 05 Desember 2018 – 08:15 WIB
Elpiji Melon Langka, Pertamina Gencarkan Razia - JPNN.COM

jpnn.com, BALIKPAPAN - Kelangkaan elpiji 3 kilogram terjadi di Balikpapan, Kaltim. Beberapa warga yang sudah menyisir sepanjang Jalan Soekarno-Hatta dari Km 11 sampai Muara Rapak, Senin (3/13) tak membuahkan hasil. Begitu juga di kawasan Gunung Polisi hingga Pandansari, Balikpapan Barat juga kosong.

“Gas 3 kilogram lagi langka kenapa ya? Atau pengaruh yang kemarin ketahuan banyak restoran pakai 3 kilogram itu, makanya susah dicari?” kata Benny, warga Gunung Polisi. Dia mengaku sudah mencari di sekitar rumahnya sampai Pandansari, namun tak menemukan.

Di media sosial Facebook, juga ada keluhan sulitnya mencari elpiji melon bersubsidi tersebut. Misalnya di akun milik Dian Si Boru Butar-Butar. “Di sini ada yang jual gas elpiji 3 kilogram kah? Di sekitaran kilo buat malam ini. Sudah cari keliling sampai kota enggak ada dapat,” ujarnya yang lantas ditanggapi puluhan warganet.

Corporate Communication Pertamina Kalimantan Didi Andrian Indra Kusuma menjelaskan, penyaluran elpiji 3 kilogram kepada masyarakat melalui agen-agen berjalan normal. Tidak ada pengurangan, bahkan penyalurannya sudah melebihi kuota. Dan itu seharusnya sudah sangat cukup.

“Makanya Pertamina bersama Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM, Dinas Perdagangan, kepolisian daerah dan Satpol PP sedang gencar melaksanakan razia,” ujarnya.

Razia dilakukan ke pengusaha-pengusaha kuliner kelas menengah dan juga penatu (laundry). Ini sebagai upaya agar penggunaan LPG 3 kilogram tepat sasaran.

Hasilnya, memang banyak tempat usaha kelas menengah yang masih menggunakan elpiji 3 kilogram. Bahkan jumlahnya sampai beberapa tabung. Seperti hasil sidak sepekan lalu, didapati rumah makan Haur Gading memiliki 3 tabung, Laundry Syariah 13 tabung, Laundry Butterfly 10 tabung, Rumah Makan Canton 4 tabung, dan Rumah Makan Mbak Ayu 6 tabung.

“Penyaluran dari Pertamina sudah 10 persen melebihi kuota. Tapi ternyata penggunanya belum tepat sasaran. Tentunya ini memakan hak orang miskin,” tambah Didi.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar