Gadis Kecil Penggagas Hari Ibu itu Menolak Menyembah Raja Jawa

Gadis Kecil Penggagas Hari Ibu itu Menolak Menyembah Raja Jawa
Soejatin saat memerankan lakon R.A. Kartini, 1923. Gambar ini termuat dalam buku Sumbagsihku Bagi Pertiwi. Foto: Repro Wenri Wanhar/JPNN.com.

Hanya saja ibunya menganggap kebiasaannya yang "keterlaluan" ini aneh. 

Agar tak ditegor, Soejatin seringkali sembunyi-sembunyi membaca di atas pohon atau di kolong tempat tidur.

Kartini

Ada satu buku yang dibacanya hingga berkali-kali. Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang)--nya R.A. Kartini. 

"Setiap membaca buku ini rasanya saya masuk ke dalamnya…saya betul-betul terpana dalam menghayati isi cita-cita Ibu Kartini," ungkapnya.

Tahun 1922, ketika sekolah di MULO (setingkat SMP) di Yogyakarta, dia bergabung dengan Jong Java. Dan aktif mengelola majalah yang diterbitkan organisasi tersebut.

Pada 1923, diselenggarakan pawai besar-besaran memperingati 25 tahun Ratu Wilhelmina. 

Pawai ini terbuka untuk umum. Semua residen dan pajabat gubernemen ambil bagian. 

INILAH kisah Soejatin. Si penggagas Kongres Perempuan Indonesia pertama, yang kemudian dijadikan Hari Ibu, 22 Desember.  Wenri Wanhar - Jawa

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News