Gas Air Mata, Sejarah Penemuan, Bisnis, dan Penggunaannya untuk Pembubaran Massa

Gas Air Mata, Sejarah Penemuan, Bisnis, dan Penggunaannya untuk Pembubaran Massa
Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa pengunjuk rasa yang berakhir dengan kericuhan. Foto: Antaranews.com

Penggunaan gas air mata justru meningkat setelah Perang Dunia I berakhir. Amerika Serikat sebagai kampiun kapitalisme menjadikan gas air mata sebagai ladang bisnis.

"Jadi, di AS, orang yang akhirnya mengambil alih Divisi Peperangan Kimia -aktif selama perang- pergi dengan misi bersama teman-temannya yang kuat di penerbitan, pengacara, dan humas untuk menciptakan pasar komersial bagi gas air mata. Namanya Jenderal Amos Fries," ujar Feigenbaum dalam wawancara dengan VOX Media pada pertengahan 2020.

Selama periode 1919 hingga awal 1920-an, Jenderal Amos dan rekan-rekan bisnisnya mendekati kepolisian. Mereka juga beriklan untuk menjangkau pembeli.

"Pada pertengahan 1920-an, gas air mata mulai menjadi hal biasa di gudang senjata polisi," ucap Feigenbaum.

Di AS, lakrimator juga dikenal dengan sebutan CS gas atau chlorobenzalmalononitrile. CS merupakan perpaduan dari inisial terakhir dua ilmuwan yang menemukannya pada 1928, yakni Ben Corson dan Roger Stoughton.

Berakhirnya Perang Dunia I membuat ribuan tentara AS pulang kampung dan butuh pekerjaan. Akan tetapi, tidak banyak lapangan pekerjaan yang tersedia saat masa beralih dari peperangan ke era damai.

Kondisi itu berimbas pada meningkatnya agitasi pemogokan buruh, bahkan sampai memicu kerusuhan di kalangan warga Amerika keturunan Afrika.

Warga kulit putih di AS menganggap mantan tentara Afro-Amerika memperoleh banyak keuntungan semasa perang. Selama periode 1919-2021 saja terdapat 29 kekerasan karena aksi mogok dan kerusuhan rasial di AS.

Gas air mata dianggap menjadi sebab banyaknya korban jiwa dalam Tragedi Kanjuruhan. Sejarah penggunaan gas air mata dimulai lebih dari seabad silam.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News